:: Sponsored ::


:: Statistic ::


Web Page Counter
Since 25.01.2006
Since 17.Aug.2005

visitor online

:: MP3 Player ::
Tam's MP3 Player
:: Tam's IndoHitz ::
:: Quotation ::
:: Blog Map ::
My Location
:: The Story ::


Manusia dengan Berkah Agung (Gede Prama)
<$BlogDateHeaderDate$>
Dalam ilmu-ilmu manusia, sudah lama dikenal rumus "kita bisa menjadi apa yang kita pikirkan".
Ketika perang dingin antara AS dan Soviet begitu menakutkan, pikiran kolektif manusia berpikir bagaimana ia segera berakhir. Dan keruntuhan Soviet membuat perang dingin berakhir, diganti kedigdayaan AS yang tidak tertandingi. Bom teroris yang meraung-raung, lalu berusaha menjadi pengimbang. Ini disusul bom lebih besar di Afganistan dan Irak. Dalam keadaan seperti ini, pikiran kolektif mulai rindu dengan negara yang bisa menjadi pengimbang AS. Dan jangan-jangan ini bisa berujung pada datangnya perang dingin kembali.

Indonesia juga serupa. Saat Orde Baru (Orba) berkuasa banyak orang merindukan kebebasan. Dan saat Orba runtuh, kebebasan datang. Namun, mulai ada tanda-tanda banyak manusia Indonesia bosan kebebasan, rindu keteraturan. Jangan-jangan pikiran kolektif seperti ini akan menghasilkan Orba dengan baju baru.

Merindukan yang nanti
Seperti ditulis Dr Michael Newton dalam Journey of the Souls, banyak jiwa mengalami depresi berat. Setelah dihipnoterapi ternyata berkejaran dengan keinginan sejak beberapa kehidupan sebelumnya. Dalam derajat yang berbeda, manusia sedang berkejaran dengan keinginan. Tandanya ialah menyukai sesuatu yang nanti akan terjadi, membenci sesuatu yang sudah digenggam. Setelah yang nanti menjadi sesuatu yang kini, lagi-lagi kita merindukan yang nanti.

Ini serupa kisah Nasrudin. Suatu hari Nasrudin asyik memancing. Tiba-tiba polisi datang. Nasrudin lari, diikuti polisi. Setelah berhenti karena kelelahan, polisi sambil membentak bertanya, "Mana tiket masuknya?" Dengan polos Nasrudin menunjukkan tiket. Menyadari kekeliruannya, polisi bertanya, "Kalau punya tiket, mengapa tadi lari?" Nasrudin berucap, "Saya lari karena penyakit mag kambuh, ingin cepat-cepat bertemu dokter."

Beginilah kehidupan banyak orang. Terlalu banyak waktu terbuang untuk berlari. Setelah habis energi, baru sadar kalau berlari untuk sebuah kesalahpahaman. Dan yang paling banyak bertanggung jawab atas hidup yang terus berlari adalah keserakahan/keinginan.

Kebahagiaan vs keinginan
Sadar akan bahayanya keserakahan tidak sedikit guru yang belajar mengelolanya. Seperti menangkap sapi liar, awalnya melawan, memberi penjelasan kalau terpenuhinya keinginan adalah tanda dicapainya kebahagiaan.

Namun, apa pun alasannya, tetap keinginan dikembalikan ke tempat semula, hanya sebagai pembantu bukan penguasa. Maka ada yang mencoba bercakap-cakap dengan keserakahan. Hai keserakahan, rumah siapakah yang suka kau kunjungi? "Rumah orang kaya karena di sana saya jadi raja." Saat pertanyaannya dibalik, rumah siapa yang dibenci, ia menjawab sedih, "Rumah orang bijaksana karena di sana saya hanya jadi pembantu."

Inilah tanda-tanda awal manusia yang mulai diterangi kebijaksanaan, keinginan, dan keserakahan kembali ke tempat duduk asalnya sebagai pembantu setelah lama congkak jadi penguasa. Kalau bukan terpenuhinya keinginan sebagai ukuran kebahagiaan, lantas adakah ukuran kebahagiaan yang lain?

Seorang pejalan kaki, berbisik ke dalam diri, orang yang amat bahagia adalah yang sadar di dalam batinnya bahwa dialah yang paling hina. Untuk itu, tidak ada pilihan lebih baik untuk menemukan kebahagiaan kecuali rendah hati. Akibat meletakkan diri di tempat terendah, tidak seorang pun bisa menghinanya. Karena tidak bisa dihina, ia bahagia di mana saja berada.

Di dunia sufi pernah lahir Faried yang agung. Oleh gurunya ia pernah diajari, "Faried kapan saja engkau dipukuli orang, cepat cium kakinya, kemudian pulanglah tanpa rasa dendam." Murid-murid Kristus lama diajari hanya kasih yang bisa membuat setetes jiwa menjadi lautan Tuhan. Lebih terang lagi ada yang menulis, all souls are perfected in love.

Bhisma pernah berpesan kepada Yudistira tentang orang suci saat tubuhnya beberapa saat lagi akan wafat. Orang suci adalah manusia dengan batin tenang seimbang. Dalam batin seperti ini, semua arah adalah indah.

Bagi segelintir pencari kesucian di jalan Buddha, penderitaan bukan sesuatu yang ditakuti. Ketika memilih antara penderitaan dan kebahagiaan, mereka memilih penderitaan. Terutama karena penderitaan seperti air suci yang memurnikan perjalanan.

Inilah contoh-contoh manusia yang berbahagia tanpa tenggelam dalam keserakahan. Mereka memiliki pengertian tentang kekayaan secara berbeda. Contentment the greatest wealth. Dalam rasa berkecukupan itulah letak kekayaan teragung. Orang-orang seperti ini kerap berpesan, saat orang menyebut dirimu agung, bukan karena engkau agung, tetapi karena jiwa mulai tersambung dengan jiwanya jiwa.

Orang-orang teistik (Islam, Nasrani, Hindu) memberi simbol angka satu terhadap hal ini. Terutama karena yang dua (diri dan Tuhan) telah menyatu. Orang-orang nonteistik (contohnya Buddha) memberi simbol angka nol akan hal ini. Secara lebih khusus karena semua sudah sempurna apa adanya. Tidak ada lagi hal positif yang perlu ditambahkan, tidak ada lagi hal negatif yang perlu dikurangkan. Terlihat berbeda. Dan biarlah pohon kelapa tumbuh di pantai, pohon cemara tumbuh di gunung. Keduanya bertumbuh indah di tempat asalnya.

Maka di Timur pernah lahir pendapat tentang ciri-ciri manusia dengan berkah agung: "memandang perbedaan sebagai keindahan, melindungi diri dengan perisai kesabaran, kekayaannya adalah rasa berkecukupan, hidupnya diterangi matahari kesadaran, dan kalau terpaksa mengeluarkan pedang, ia mengeluarkan pedang kebijaksanaan".

Di Barat ada tulisan, "my parent hate me when they know that I am a Buddhist but they love me when they know that I am a Buddha". Orangtua pernah terkejut melihat anaknya karena kerap masuk wihara. Namun, ia cinta sekaligus bangga ketika melihat putrinya menunjukkan sifat-sifat bajik setiap hari. Seperti memberi tanda makna, bukan judul agama yang membuat seseorang menjadi agung, tetapi kebajikan dalam keseharian.

Sumber: Kompas, Gede Prama Bekerja di Jakarta, Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara

Labels:

posted by .:: me ::. @ 11:04:00 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
:: My Profile ::

... m.y.z.t.e.r.i.o.u.z ...
... click my profile ...
... please don't click ...




Join me on Friendster!

Chat 

With Me
:: Wisdom ::

When we succeed, we are thankful. When we fail, we are also thankful.
The happiness and wealth are in the thankful attitude itself.
[Saat sukses kita bersyukur. Saat gagalpun kita bersyukur.
Sesungguhnya kebagiaan dan kekayaan sejati ada pada rasa bersyukur.]"

Love and attention is power! If all us are willing to share love and attention towards people arounds us, then life will be happier and more meaningfull.
(Cinta dan perhatian adalah kekuatan! Jika setiap hari kita mau memberikan cinta dan perhatian kepada orang-orang di sekeliling kita hidup akan lebih bermakna).

Terkadang manusia terlebih dahulu tenggelam dalam keputusasaannya.
Dengan emosinya mereka mengatakan bahwa masalah yang mereka hadapi sangatlah berat.
Sesungguhnya jika mereka yakin dengan usaha mereka, niscaya Tuhan pasti menjawabnya.

Salah satu cara yang paling efektif untuk memperbaiki diri adalah dengan mengingat dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan.
Karena mungkin saja kesempitan yang dialami saat ini adalah buah dari kesalahan masa lalu dan kita belum memohonkan ampun kepada Allah.

The future is not a result of choices among alternative paths offered by the present, but a place that is created – created first in the mind and will, created next in activity.
The future is not some place we are going to, but one we are creating. The paths are not to be found, but made, and the activity of making them, changes both the maker and the destination.[John Schaar].
:: Recent Post ::
:: Archives ::
:: Menu ::
:: LETTO Fans Blog ::
:: NIDJIholic Blog ::

Click Slide Show
:: Friends ::
:: Games ::
:: Powered By ::

BLOGGER
2006, Ver. 4.0, Design by: Tamtomo~ Email: TamtomoMail~ Please Send Your Comment About Our Blog