:: Sponsored ::


:: Statistic ::


Web Page Counter
Since 25.01.2006
Since 17.Aug.2005

visitor online

:: MP3 Player ::
Tam's MP3 Player
:: Tam's IndoHitz ::
:: Quotation ::
:: Blog Map ::
My Location
:: The Story ::


Bagaimana Cara Mempertahankan Motivasi?
<$BlogDateHeaderDate$>
“Bagaimana cara mempertahankan motivasi? Dari mana sumbernya?”

Seringkali, ketika kita merasa down, biasanya kita senang “curhat” dengan teman maupun kekasih hati.
Ada juga yang menjadi tiba-tiba rajin berdoa dan berkomunikasi dengan The Ultimate Force of Life (alias Yang Maha Kuasa).
Banyak cara untuk mengatasi hati yang sedih, kacau, kecewa, cemas dan gundah gulana.
Termasuk segelintir orang yang mempunyai akses untuk terus mengikuti seminar-seminar motivasi dengan tujuan “memompa” motivasi yang sudah mulai kendor.
Setelah beberapa lama, biasanya dalam hitungan hari, motivasi yang “terpompa” tiba-tiba menjadi loyo kembali.
Gundah gulana lagi. Sedih lagi. Kecewa lagi. Cemas lagi. Panik lagi.

Setelah itu, kembali mencari “pompa motivasi” dengan berbagai cara dari “luar,” yaitu dengan cara-cara di atas.
Tetap saja, motivasi menjadi kendor dalam beberapa hari. Kemudian, siklus “memompa” dan “kendor” terulang lagi.
Begitu seterusnya seperti suatu lingkaran yang tidak ada putusnya.
Bagaimana caranya supaya motivasi yang sudah terpompa itu menjadi “tahan lama”?
Pertanyaan yang bagus sekali.

Pertanyaan philosophical ini sebenarnya bisa dijawab dalam bentuk buku yang tebalnya 300 halaman atau dengan satu kalimat singkat ini, “Carilah motivasi dari dalam diri, bukan dari luar. Segala sesuatu yang berasal dari dalam diri tidak akan mudah goyah oleh hal-hal dari luar.”

Banyak sekali bukti bahwa motivasi yang tertinggi (the ultimate motivation) bukanlah motivasi yang bersumber dari teriakan-teriakan motivasional dan afirmasi-afirmasi yang diucapkan tidak dengan sepenuh hati.
Bahkan ada orang yang bertanya kepada saya, “Kok katanya saya bisa semakin sukses, lha padahal saya sudah ucapkan afirmasi setiap hari selama dua bulan, kok ya belum sukses-sukses pula…?

Ah, pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan (maaf) yang dungu.
Selama afirmasi hanya dianggap sebagai afirmasi, ia tidak akan memberi manfaat nyata.
Afirmasi hanyalah salah satu instrumen untuk mengubah mindset seorang pecundang (loser) menjadi pemenang (winner).

Jadi, afirmasi bukanlah jalan freeway menuju sukses.
Ia hanyalah tumpukan batu kerikil yang bisa kamu susun setiap hari menjadi jalan setapak yang berliku-liku menuju suatu jalan misterius, yang mudah-mudahan, adalah jalan Anda menuju sukses.
Saya menjadi teringat dengan salah satu teman kuliah saya, yang sudah bertahun-tahun ingin melakukan sesuatu setiap kali hatinya sedang gundah gulana.
Sampai detik ini, hal itu belum juga ia lakukan karena berbagai pertimbangan yang bagi saya adalah “mengada-ada.”
Uniknya, setiap kali gundah, ia pasti ingat akan hal itu, lantas dengan nada yang sangat memelas, ia biasanya menghubungi saya.
Biasanya saya pompa semangatnya untuk mempersiapkan diri menyongsong hari baru sesuai dengan harapannya.
Namun biasanya dalam beberapa hari, niatnya diurungkan lagi, terutama kalau hatinya sudah tidak gundah lagi.
Ini sudah membentuk suatu pola yang berlangsung bertahun-tahun tanpa ada tindakan nyata.
Kegundahan akan terus menghantuinya sepanjang hidup, di manapun dia berada.
Niat untuk “escape” dari suatu keadaan ketika hati gundah semestinya bisa dilawan dengan tekad yang kuat.
Kalau pun niat ini sudah menjadi ketekadan bulat, “escape” lah, tanpa perlu ditimbang-timbang lagi akan kekhawatiran yang tidak perlu.

Keberanian dan ketekatan untuk bertindak di dalam ketidakmenentuan merupakan wujud dari iman (faith) kita.
Jalanlah dalam kegelapan, toh di ujung lorong ada secercah cahaya yang menerangin jalan kita.
Lantas, mengapa takut? Motivasi dari dalam juga merupakan wujud dari iman (faith).
Jadi, sangat tidak masuk akal (make sense) bagi saya kalau ada orang beriman yang sangat rajin beribadah namun tidak mempunyai motivasi hidup dan gundah gulana serta cemas tidak karuan terus sepanjang hidup.
Iman (faith) identik dengan motivasi berkelas marathon dan keberanian serta tekad untuk berjalan di dalam lorong yang gelap (tidak menentu). Saya yakin Anda lebih senang menyebut diri sebagai seorang beriman, namun yang seperti apa?
Hanya Anda yang bisa menjawab sendiri.

Sekarang Anda pasti sudah bisa menjawab bahwa sumber motivasi tertinggi bersumber dari dalam diri sendiri yang dibarengi dengan iman yang mendalam.
Yuk, kita jalan bersama-sama di dalam lorong yang gelap sambil bernyanyi dan tertawa.
Biarkan dunia bergejolak, toh saya tahu apa yang mesti saya jalankan di dalam lorong yang penuh misteri ini.

Sumber: Jennie S. Bev. (penulis, edukator dan konsultan berbasis di Kalifornia Utara, ia telah menerbitkan 20 buku dan lebih dari 900 artikel di manca negara)
posted by .:: me ::. @ 6:45:00 AM  
1 Comments:
  • At 22/5/06 11:33, Anonymous Anonymous said…

    Nice colors. Keep up the good work. thnx!
    »

     
Post a Comment
<< Home
 
:: My Profile ::

... m.y.z.t.e.r.i.o.u.z ...
... click my profile ...
... please don't click ...




Join me on Friendster!

Chat 

With Me
:: Wisdom ::

When we succeed, we are thankful. When we fail, we are also thankful.
The happiness and wealth are in the thankful attitude itself.
[Saat sukses kita bersyukur. Saat gagalpun kita bersyukur.
Sesungguhnya kebagiaan dan kekayaan sejati ada pada rasa bersyukur.]"

Love and attention is power! If all us are willing to share love and attention towards people arounds us, then life will be happier and more meaningfull.
(Cinta dan perhatian adalah kekuatan! Jika setiap hari kita mau memberikan cinta dan perhatian kepada orang-orang di sekeliling kita hidup akan lebih bermakna).

Terkadang manusia terlebih dahulu tenggelam dalam keputusasaannya.
Dengan emosinya mereka mengatakan bahwa masalah yang mereka hadapi sangatlah berat.
Sesungguhnya jika mereka yakin dengan usaha mereka, niscaya Tuhan pasti menjawabnya.

Salah satu cara yang paling efektif untuk memperbaiki diri adalah dengan mengingat dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan.
Karena mungkin saja kesempitan yang dialami saat ini adalah buah dari kesalahan masa lalu dan kita belum memohonkan ampun kepada Allah.

The future is not a result of choices among alternative paths offered by the present, but a place that is created – created first in the mind and will, created next in activity.
The future is not some place we are going to, but one we are creating. The paths are not to be found, but made, and the activity of making them, changes both the maker and the destination.[John Schaar].
:: Recent Post ::
:: Archives ::
:: Menu ::
:: LETTO Fans Blog ::
:: NIDJIholic Blog ::

Click Slide Show
:: Friends ::
:: Games ::
:: Powered By ::

BLOGGER
2006, Ver. 4.0, Design by: Tamtomo~ Email: TamtomoMail~ Please Send Your Comment About Our Blog