:: Sponsored ::


:: Statistic ::


Web Page Counter
Since 25.01.2006
Since 17.Aug.2005

visitor online

:: MP3 Player ::
Tam's MP3 Player
:: Tam's IndoHitz ::
:: Quotation ::
:: Blog Map ::
My Location
:: The Story ::


Bulu Angsa
<$BlogDateHeaderDate$>
Pada abad ke sebelas ketika itu Bao Zheng seorang hakim yang dikenal adil dan bijaksana pada jaman Dinasti Song Utara sedang menangani sebuah kasus fitnah yang dilakukan oleh seorang warga kota Kaifeng di Provinsi Henan karena persaingan usaha. Pria separuh baya itu telah terbukti menyebarkan kata-kata fitnah yang sangat merugikan pengusaha lainnya.

Didalam persidangan Hakim Bao menjatuhkan hukuman denda sebesar seratus tael perak dan jika tak sanggup membayar maka sebagai gantinya harus mendekam di penjara selama satu tahun.

Pria terdakwa itu menangis tersedu-sedu mohon ampun seraya meminta keringanan hukuman.
"Baiklah" kata Hakim Bao "Kamu akan mendapatkan keringanan hukuman namun ada syarat yang harus kamu lakukan."
"Apa itu yang mulia?" Tanya pria itu penuh harap.
Hakim Bao meminta para pengawal untuk membawa pria itu ke sebuah dataran
diatas sebuah bukit dimana angin berhembus dingin dan kencang.
Kemudian salah satu pengawal mengeluarkan sebuah kantung kecil berisi segenggam bulu angsa.
"Bulu-bulu angsa ini akan disebarkan dan tugas kamu adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya bulu-bulu angsa itu, setiap helai bulu angsa bernilai satu tael perak.

Saat kantung dibuka, maka bulu-bulu angsa itu langsung beterbangan tinggi disapu angin yang bertiup sangat kencang. Pria itu bergegas berlari kesana kemari berusaha menangkap bulu-bulu angsa itu.

Alhasil setelah beberapa jam, pria itu hanya memegang dua helai bulu angsa ditangannya. Dengan lunglai pria itu pun menerima keputusan hukuman yang telah dijatuhkan oleh Hakim Bao.

"Bulu-bulu angsa itu ibarat kata-kata yang telah kau ucapkan, seperti halnya bulu-bulu angsa yang beterbangan dan sungguh tidak mudah untuk ditangkap kembali, sama dengan kata-kata yang terlanjur kau keluarkan dari mulutmu, sungguh sulit untuk menariknya kembali" kata Hakim Bao

"Lain kali berhati-hatilah dalam berucap" kata Hakim Bao menutup persidangan.

Labels:

posted by .:: me ::. @ 12:36:00 PM   0 comments

Hidup Adalah Pilihan
<$BlogDateHeaderDate$>
Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah.
Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.
Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air.

Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya ", ujar pak tua.
"Pahit, pahit sekali ", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya.

Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu.
Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dgn sepotong kayu ia mengaduknya.

"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah."
Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, "Bagaimana rasanya ?"
"Segar ", sahut si pemuda.
"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua.
"Tidak, " sahut pemuda itu.

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: "Anak muda, dengarkan baik-baik.
Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang.
Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.? Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya."
"Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan; lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan: "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.?
Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian."

Karena Hidup adalah sebuah pilihan..mampukah kita jalani kehidupan dengan baik sampai ajal kita menjelang..?


Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik.

Labels:

posted by .:: me ::. @ 5:46:00 PM   0 comments

Penjara Hati
<$BlogDateHeaderDate$>
Seekor belalang telah lama terkurung di dalam sebuah kotak.
Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya.
Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain, namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran dia menghampiri belalang lain itu dan bertanya, "Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?".
Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan, "Di manakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan."
Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut.
Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman, tradisi, dan kebiasaan bisa membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita.
Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam-dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu?
Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dengan seutas tali yang terikat pada sebilah pancang kecil?
Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada "sesuatu" yang mengikat kakinya, padahal "sesuatu" itu bisa jadi hanya seutas tali kecil...

Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri bahwa Anda bisa "melompat lebih tinggi dan lebih jauh" kalau Anda mau menyingkirkan "penjara" itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap di luar batas kemampuan dan pemikiran Anda?
Sebagai manusia kita berkemampuan untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami.

Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin Anda capai.
Sakit memang, lelah memang, tapi jika Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.
Pada dasarnya, kehidupan Anda akan lebih baik kalau Anda hidup dengan cara hidup pilihan Anda sendiri, bukan dengan cara yang dipilihkan orang lain untuk Anda.

(Sumber: Anonim)

Labels:

posted by .:: me ::. @ 1:44:00 PM   0 comments

Kaca Yang Kotor
<$BlogDateHeaderDate$>
Dari ruang kerjanya, di sebuah gedung perkantoran yang megah, seorang pengusaha menertawakan kaca jendela pesaingnya yang berada di seberang kantornya.
Katanya, "Jendelanya pasti adalah jendela yang paling kotor di kota ini," ejeknya pada setiap orang yang datang menemuinya.

Suatu hari seorang bijak mampir ke kantornya.
Seperti biasa, pengusaha ini menunjuk ke seberang kantornya, ke arah kantor pesainngnya, dan berkata, "Lihat betapa kotor jendela pesaingku itu."

Orang bijak ini tersenyum lalu menyarankan pada pengusaha ini untuk membersihkan kaca jendelanya terlebih dahulu.
Pengusaha ini pun memenuhi saran dari si orang bijak.

Sesaat setelah kaca jendelanya dibersihkan ia berkomentar, "Betapa mengherankan, begitu aku membersihkan kaca jendelaku, pesaingku ternyata juga membersihkan kaca jendelanya. Kaca jendelanya kini tampak bersih."

Sesuatu yang tampak kotor mungkin disebabkan oleh pandangan kita sendiri yang buram.

Labels:

posted by .:: me ::. @ 6:45:00 AM   1 comments

Racun
<$BlogDateHeaderDate$>
SEMUA kejadian pasti bermakna, tak peduli bikin sedih atau sakit hati.
Maka, nasihat arif yang acap kita dengar adalah: ''Petik manfaatnya, ambil hikmahnya.''
Ubahlah cara pandang! Istilah kerennya, reframing.
Yaitu upaya membingkai ulang sebuah kejadian dengan mengubah sudut pandang secara positif.


Maka, jadilah sebuah kebencian bersulih cinta.
Ketakutan mewujud ketenteraman batin.
Dan, yang tampak ''tidak adil'' terlihat sebagai anugerah yang perlu disyukuri.


Apalagi jika mampu melihat secara polos, alami tanpa ego, maka akan tergambar cinta kasih yang hidup dalam setiap renik penciptaan-Nya.

Hidup pun benar-benar tenteram tanpa dibayangi ketakutan.

Pelukis, pemusik, dan sastrawan besar India, Rabindranath Tagore (1816-1941), menulis begini: ''Di belakangku ada kekuatan tak terbatas, di depanku ada kemungkinan tak berakhir, di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung. Dan, semua itu ada Yang Mengatur. Kenapa mesti takut?''

Ya, kenapa mesti takut? Sunan Bonang alias Makhdum Ibrahim, yang lahir pada pertengahan abad ke-15 dan meninggal pada abad ke-16, menulis sajak begini:

Jangan terlalu jauh mencari keindahan
Keindahan ada di dalam diri malah seluruh dunia ada di dalam diri
Jadikan dirimu cinta
Supaya dapat memandang dunia
Pusatkan pikiran heningkan cipta
Siang malam, berjagalah!
Segala yang ada di sekelilingmuAdalah buah amal perbuatanmu
Jadikan dirimu cinta supaya dapat memandang dunia!

Kalimat yang bermakna dalam. Dr. Deepak Chopra, ahli psikospiritual India, menulis dalam The Way of the Wizard, Rahasia Jurus Sang Empu, cinta adalah ''yang meluluhkan segala ketidakmurnian, sehingga yang masih ada hanya yang sejati dan yang riil.''

Selama kaupunya takut, kaupunya kemarahan, kau punya ego yang mementingkan diri sendiri, kau tidak bisa benar-benar mencintai.
Dan, tidak ada orang yang tanpa cinta.
Yang ada hanya orang yang tidak bisa merasakan kekuatan cinta.
Cinta itu lebih dari suatu emosi atau suatu perasaan.

Cinta lebih dari kegairahan.
Cinta adalah udara yang kita hirup sebagai napas... dan beredar dalam tiap sel.'
Cinta adalah kekuatan tertinggi karena tiada paksaan.


Cinta itu pula yang menggerakkan saya membagi kisah dari e-mail seorang rekan.
Ceritanya, di zaman Cina kuno, seorang wanita muda yang baru menikah, Li-Li, tinggal di rumah ''mertua indah''.

Setelah berhari-hari berkumpul, dia menyimpulkan tidak cocok dengan si ibu mertua.
Tiada hari tanpa debat dan tengkar.Li-Li tambah kesal karena adat Cina kuno mengatakan: ''Harus selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertua dan menaati semua kemauannya.''
Suami Li-Li, seorang yang berjiwa sederhana, sedih menghadapi keributan yang tiada pernah henti itu.

Akhirnya, Li-Li tak tahan lagi, dan bertekad melakukan sesuatu.
Ia pun pergi ke rumah sahabat ayahnya, Sinshe Wang, yang memiliki toko obat.
Ia ceritakan kekeruhan di rumah dan mohon agar dibuatkan racun bagi si ibu mertua.

Sinshe Wang berpikir keras sejenak, lalu berkata: ''Li-Li, saya mau membantu menyelesaikan masalahmu, tapi kamu harus mendengarkan saya dan menaati apa yang saya sarankan.''
Jawab Li-Li: ''Baik, Pak Wang. Saya akan mengikuti yang Bapak katakan.''

Wang mengambil ramuan dan berpesan: ''Kamu tidak bisa memakai racun keras yang mematikan seketika untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena itu akan membuat orang jadi curiga. Saya memberimu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan jadi racun dalam tubuhnya.''

Untuk itu, ''Setiap hari sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya. Lalu, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati dan bersikaplah sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti seorang ratu,'' kata Wang.

Li-Li sangat senang dan berterima kasih pada Wang.
Buru-buru dia pulang untuk memulai rencana membunuh ibu mertua.
Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu, Li-Li melayani mertuanya secara manusiawi.
Disuguhkannya makanan lezat yang sudah ''dibumbui''.
Pokoknya, sesuai petunjuk agar tak menimbulkan kecurigaan.
Ia mulai belajar mengendalikan amarah, menaati perintah ibu mertua, dan memperlakukannya seperti ibu sendiri.

Enam bulan berlalu, dan suasana berubah drastis.
Li-Li sudah mampu menguasai diri.
Ia tak pernah kesal atau marah lagi.
Ia juga tak pernah berdebat dengan ibu mertua.
Begitu pula si ibu mertua.
Jauh lebih ramah.
Li-Li dianggap sebagai putri sendiri.
Tak hanya itu, diceritakan pada kawan dan sanak famili bahwa Li-Li menantu paling baik yang ia peroleh.

Suatu hari, Li-Li menemui Sinshe Wang. ''Pak Wang, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan pada ibu mertua tidak sampai membunuhnya. Ia telah berubah jadi wanita sangat baik sehingga saya mencintainya, seperti ibu sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan kepadanya,'' kata dia.Wang tersenyum.

Ia mengangguk-angguk, lalu berkata: ''Li-Li, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu itu hanyalah penguat badan untuk menjaga kesehatan.... Satu-satunya racun yang ada adalah yang terdapat dalam pikiranmu sendiri dan di dalam sikapmu terhadapnya. Tapi semua itu telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya.''
Cinta memang dahsyat.
Pepatah Cina kuno mengatakan: ''Orang yang mencintai orang lain akan dicintai juga sebagai balasannya.''
Dan, itu sudah dibuktikan Li-Li, walau pada awalnya karena keterpaksaan.

(taken from: TamtomoVision)


Labels:

posted by .:: me ::. @ 12:03:00 PM   0 comments

Be Yourself: Kisah Pandawa Lima
<$BlogDateHeaderDate$>
Pernah dengar yang namanya "Pendawa Lima" atau orang Jawa biasa menyebut "Pendowo Limo".
Bagi yang tahu banyak maupun sedikit soal wayang, pasti tahu (agak maksa nich), dan bagi yang kurang begitu tahu bisa tanya ortunya masing-masing.

Kata "lima" di belakangnya sebenarnya cuma penegas, karena sebenarnya "pendawa" itu berarti "anak lima lelaki semua" , jadi pasti jumlahnya lima.
Seperti juga "Sendang Kapit Pancuran" (bahasa Indonesianya = sendang yang di apit oleh pancuran) berarti anaknya tiga yang nomer dua perempuan (sendang/ lingga) dan yang mengapit lelaki (pancuran/ yoni).

Kembali ke Pendawa Lima, walaupun saya tidak akan membahas wayang itu sendiri, tapi kata itu mempunyai makna yang sangat dalam bagi diriku, dimana makna yang terkandung di dalamnya sangat erat dengan diri kita sendiri, dan kenapa harus "Pendawa Lima" yang menjadi tokoh sentral dari cerita Mahabarata itu sendiri, dan mengapa "Kurawa" yang menjadi musuh utamanya....

Cerita wayang yang sudah melegenda ribuan tahun ini tidak asal dibikin dinegeri asalnya, India.
Saya juga yakin ketika Sunan Kalijaga sedikit berimprovisasi (disesuaikan budaya Jawa) juga penuh kehati - hatian dengan makna yang terkandung didalamnya.
Cerita yang kudapat, kata empunya cerita, itu juga berasal dari Sunan Kalijaga waktu beliau membedah hakikat hidup itu sendiri, dimana sang sunan dalam masa mudanya pernah menjadi seorang "Brandal" (tokoh perampok) dengan gelar Brandal Lokajaya, sebelum akhirnya dibimbing oleh Sunan Bonang.

Pendawa lima. Tokoh didalamnya adalah lima bersaudara putra dari Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Kunti & Dewi Madrim.
Yang terbuang dari tahtanya, menderita, berjuang kembali mendapat tahtanya dalam perang besar "Barata Yudha" dengan melawan saudara sendiri Kurawa (jumlahnya seratus).

Dari kelimanya mempunyai sifat/karakter sendiri - sendiri, yang mungkin kita anggap biasa - biasa saja.
Tapi ternyata, seperti saya bilang diawal, semua itu ada makna yang terkandung di dalamnya.

Pendawa lima adalah penggambaran dari Manusia itu sendiri, diri kita sendiri, coba kita ulas :

Puntadewa, tertua pendawa.
Diceritakan sebagai orang jujur dan pintar, itu identik dengan mulut dan kepala manusia itu sendiri, dimana letak dari pintar berpusat di kepala itu sendiri, dan kata-kata di mulut.

Bima, kedua dari pendawa.
berbadan raksasa, selalu berdiri tegak, lurus dan kokoh, walaupun di "paseban" (pertemuan dengan raja dan para pembesar) sekalipun, itu diibaratkan sebagai badan (dada/punggung.red), yang dimana akan lurus tanpa bisa ditekuk...(khan ngga ada kata - kata, menekuk dada, yang ada khan mengelus dada)

Arjuna, penengah pendawa.
diceritakan dalam wayang dia beristri 999 cuman gagal sekali dalam kisah "Palguna dan Palgunadi", menggambarkan nafsu kejantanan dari lelaki.

Nakula dan Sadewa, Si Kembar.
Selain dari kepala, mulut dan badan, semua bagian manusia normal selalu dua alias kembar (contohnya kaki, tangan, telinga, mata dll)

Jadi bisa dikatakan bahwa, Pendawa Lima adalah hakikat manusia (lelaki) itu sendiri (secara badani), dimana mereka satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain, jadi harus sinkron, tidak boleh bertentangan.

Pada ceritanya, disaat perang "Barata Yudha", Pendawa Lima mengalami tekanan dari orang terdekat mereka, dan karena kemulian mereka "Sri Kresna" harus memberi wejangan kepada mereka tentang darma seorang satria akan kebenaran.
(diceritakan dalam kidung "Bhagawagita").

Lawan Pandawa Lima adalah :

Kurawa,
Yang berjumlah 100, merupakan saudara sepupu mereka sendiri, yang pada hakikatnya angka "seratus" adalah penggambaran dari banyaknya godaan - godaan duniawi itu sendiri, diceritakan kurawa adalah kumpulan orang - orang dengan variasi kesesatan.
Ini bisa di atasi oleh mereka, setelah mental mereka terbentuk lewat kidung "Bhagawagita" yang diceritakan oleh Sri Kresna

Karna, kakak Pandawa lain ayah,
Dialah lawan terberat Pendawa, setelah kakek Bisma, tidak hanya kesaktiannya, tapi yang lebih penting disini, Karna adalah citra (gambaran) dari Pendawa itu sendiri, melawan Karna adalah melawan diri sendiri.
Dan, disaat kebingungan itu munculah pahlawan besar, putra Bima dengan Arimbi, satria gagah perkasa, otot kawat, tulang besi dan mampu terbang ke angkasa dengan kotang Ontokusumonya, dia adalah Gatotkaca.
Di saat Pandawa, khususnya Arjuna sangat gelisah ketika akan menghadapi Karna, maka Sri Kresna segera mengutus Gatotkaca untuk melawannya, akaibatnya Gatotkaca gugur di tangan Karna, tapi setelah itu, Karna menjadi tidak berdaya tanpa Kunta-wijayadanu yang telah lenyap diperut gatotkaca.
Setelah gugurnya Karna, jalan Pendawa meraih kemenangan semakin lapang.

Inspirasi dari cerita di atas:

Cerita itu mungkin banyak yang pernah mendengarnya, tapi banyak yang dari kita tidak sadar bahwa banyak hikmah dari cerita itu.

Pendawa Lima:
Adalah diri kita sendiri, secara badani maupun rohani.

Kurawa :
Dia adalah saudara sepupu Pandawa, dibesarkan bersama dan tumbuh bersama, mempunyai sifat-sifat kesesatan.
Jumlahnya yang seratus adalah wujud dari hawa nafsu kita yang sedemikian banyaknya, dimana itu tidak bisa kita hilangkan karena, nafsu itu lahir, dan tumbuh kembang bersama kita.

Baratayudha :
Adalah perang (besar) saudara antar darah Barata, Pendawa melawan Kurawa.
Perang ini harus terjadi karena tidak akan ada yang bisa mencegah, dan baru berakhir dalam kematian.
Ini artinya adalah perang pada diri kita melawan hawa nafsu kita sendiri.

Sri Kresna :
Tokoh yang selalu mendampingi Pandawa (tanpa ikut berperang).
Dia adalah wujud dari Hati Nurani, yang selalu mengingatkan kita akan kebaikan, ketika kita dibimbangkan oleh hawa nafsu.
Di perang Baratayudha, Kurawa tidak memperbolehkan Kresna ikut berperang, karena Kresna pasti menang.
Demikian juga dengan kenyataannya, hati nurani pasti akan mengalahkan hawa nafsu.

Bhagawatgita :
Sebuah kidung/ kitab, disaat Pandawa (kita) sedang gelisah untuk menghadapi Kurawa (Nafsu), Kresna (Hati nurani) mengingatkan kita untuk bersandar pada Bhagawatgita, yang bisa kita artikan adalah sebuah kitab suci.
Memberi perintah pada kita untuk membaca apapun kitab suci kita masing-masing sesuai agamanya, bila sedang gelisah/ bimbang diantara kebenaran dan kebatilan.

Karna :
Adalah bayang - bayang ketakutan diri kita sendiri dalam menghadapi hidup, ketakutan yang terbesar dari kita seringnya adalah bayangan - bayangan menakutkan yang sebenarnya kita ciptakan sendiri.

Gatotkaca :
Dari itu semua, tokoh Gatotkaca, adalah tokoh sentral dari semua itu.
Ketika diri kita (Pandawa) dalam kondisi klimak untuk menentukan siapa pemenang perang Baratayudha (perang hawa nafsu), ditambah lawannya adalah bayang-bayang ketakutan diri sendiri (Karna), maka Kresna (hati nurani) mengutus Gatotkaca untuk mengatasinya, dan berhasil, sehingga Pandawa memenangkan perang tersebut.
Gatotkaca / Gatotkoco ---> kalau dipisah menjadi Gatot & Koco, atau dalam bahasa jawa : "Gatokno karo Koco", artinya Hadapkan dengan Kaca.

Kalau Pandawa itu diri kita sendiri, dan ketika mengadapi segala kegelisahan/kesukaran hidup, maka pahlawan diri kita sendiri adalah "Gatotkoco", atau Hadapkan dengan Kaca, siapa berdiri didepan kita bila kita hadapkan ke kaca , ..ya diri kita sendiri.

Jadi ketika kita dalam kebimbangan/kesusahan jangan lari kemana-kemana, karena pahlawan diri kita adalah diri kita sendiri

So, be yourself, Jadilah dirimu sendiri, ketika engkau akan melangkah kemanapun, jangan banyak mendengarkan orang lain, karena ini hidupmu, dirimu adalah guru terbaik bagi dirimu.

(Cerita ini dirangkum dari berbagai sumber)

Labels:

posted by .:: me ::. @ 5:07:00 PM   0 comments

Kembalikan Keranjang Itu
<$BlogDateHeaderDate$>
Suatu saat ada sepasang suami istri yang hidup serumah dengan ayah sang suami.
Orang tua ini sangat rewel, cepat tersinggung, dan tak pernah berhenti mengeluh.
Akhirnya suami istri itu memutuskan untuk mengenyahkannya.
Sang suami memasukkan ayahnya ke dalam keranjang yang dipanggul di bahunya.

Ketika ia akan meninggalkan rumah, anak lelakinya yang baru berusia sepuluh tahun muncul dan bertanya, "Ayah, kakek hendak dibawa kemana?"
Sang ayah menjawab bahwa ia bermaksud membawa kakek ke gunung agar ia bisa belajar hidup sendiri.
Anak itu terdiam.

Tapi pada waktu ayahnya sudah berlalu, ia berteriak, "Ayah, jangan lupa membawa pulang keranjangnya."
Ayahnya merasa aneh, sehingga ia berhenti dan bertanya mengapa.
Anak itu menjawab, "Aku memerlukannya untuk membawa ayah nanti kalau ayah sudah tua."

Sang ayah segera membawa kembali sang kakek.
Sejak saat itu mereka memperhatikan kakek itu dengan penuh perhatian dan memenuhi semua kebutuhannya.

"Hukuman" yang kita berikan pada orang lain, mungkin akan berbalik pada diri kita sendiri.
(Anthony de Mello)

Labels:

posted by .:: me ::. @ 12:14:00 AM   0 comments

Ulang Tahun
<$BlogDateHeaderDate$>
"Jiwa dari sebuah penghargaan tidak berada dalam barang yang Anda berikan, tetapi justru ada dalam kata-kata yang keluar dari mulut Anda."

Seorang Ibu terheran-heran melihat putrinya yang habis merayakan ulang tahun lebih sibuk mencari-cari dan mengumpulkan kartu-kartu ucapan dari teman-temannya.

"Kenapa engkau tidak membuka kado-kado itu dan melihat isinya?" Ibu itu penasaran, karena hadiah yang dibelikannya pun ---sebuah gaun pesta yang mahal--- juga tidak segera dibukanya. "Ayo sayang, lihat dan buka hadiah dari Mama dan Papa .." katanya.

"Sebentar ya Ma .." kata gadis kecil itu sambil terus menyusun kartu-kartu untuk dibacanya. Lama gadis cilik itu membaca kartu-kartu sambil berbinar dan terkadang tersenyum, tertawa dan tampak serius membacanya.


Sang Ibu tentu menjadi gusar dan jengkel karenanya, karena ia berharap putrinya segera membuka hadiah darinya dan ia pun sudah mebayangkan teriakan, "Terimakasih ya Ma !" serta ciuman terimakasih dari puterinya.
Ia membayangkan bagaimana putrinya bahagia mendapatkan gaun pesta yang spesial yang ia belikan.

Namun sebelum ketidaksenangan sang Ibu berlanjut, gadis itu rupanya sudah memahaminya. "Ma, maaf ya ... bukan mengabaikan kado Mama, tetapi ucapan-ucapan ini lebih berharga bagiku. Kata-kata dari teman dan sahabat ini lebih berjiwa dari pada barang-barang yang mereka berikan, karena kata-kata ini, betapa pun sederhananya sungguh-sungguh keluar dari hati mereka. Itu kenapa aku lebih memilih membaca kartu-kartu ini terlebih dahulu..."


Sang Ibu tidak bisa berbicara banyak mendengar ungkapan hati puterinya.
Terlebih, dalam bungkusan kado yang disiapkannya, ia tidak menyiapkan kartu dan kata-kata ucapan ....

REFLEKSI
Betapa banyak dari kita sering terpesona atau menganggap hadiah berupa barang-barang yang mahal akan membahagiakan.

Padahal kata-kata ucapan yang tulus sebenarnya merupakan hadiah termahal yang kita bisa berikan dan atau terima.


Labels:

posted by .:: me ::. @ 6:50:00 AM   0 comments

Cinta Kepala Ikan
<$BlogDateHeaderDate$>
Pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek-nenek.
Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan
kenalan.
Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapa pun mengenai berita mereka perang mulut.

Singkat kata mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang.
Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi.
Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

Di sesela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat romantis.
Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut.
Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

Tapi aneh, perasaan si nenek justru terharu bercampur kecewa dan heran.
Akhirnya sang nenek berkata kepada sang kakek: "Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan.
Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu.
Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu.

Sejak awal pernikahan, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu.

Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarang pun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini.
Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk tidak mengungkapkan hal ini."

Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab: "Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu.

Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka.
Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu.
Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang
sangat aku suka itu.
Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu.
Aku minta maaf, istriku."

Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis.
Mereka pun akhirnya berpelukan.
Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya mereka pun ikut terharu.

(sumber: unknown)

Labels:

posted by .:: me ::. @ 7:06:00 AM   0 comments

Meletakkan Beban
<$BlogDateHeaderDate$>
Alexis Carrel seorang ahli bedah kelahiran Lyons, Prancis, pejuang militer, sekaligus ilmuwan yang pernah mengilhami Charles Lindbergh dalam ilmu penerbangan, dikenal sebagai pekerja keras.

Meski demikian pemenang Nobel Kedokteran 1912 ini tetap menyarankan agar kita mencari waktu untuk ngaso (istirahat, Red.) di tengah sempitnya kesempatan.
Sebaiknya kita istirahat dan menghibur diri dengan berbagai cara sehingga istirahat dan hiburan tersebut tidak menimbulkan kelelahan baru.

Manfaat ngaso bermacam-macam. Hari ini seorang profesor memulai kuliahnya dengan mengangkat sebuah gelas kaca penuh air di depan para mahasiswanya.
"Berapa berat gelas ini?"
Jawaban mahasiswa beragam, "Mungkin 100 gram, 150 gram, 1/4 kg."

"Saya sendiri juga tidak tahu kecuali kalau saya menimbangnya lebih dulu," ujar sang profesor kalem, "Pertanyaannya adalah, apakah yang akan terjadi kalau saya memegang gelas ini selama beberapa menit?"
"Tidak akan terjadi apa-apa," jawab seorang mahasiswa.
"Kalau saya memegangnya selama satu jam?"
"Paling-paling tangan Anda akan kaku dan capek."
"Bagaimana kalau saya memegang gelas ini selama satu hari?"
"Tangan Anda akan kebas, orot-otot lengan menjadi kaku dan tegang. Kemungkinan terburuk bisa lumpuh."
"Ok. Apakah selama itu berat gelas bertambah?"
"Oh, tidak"
"Lantas, apa yang menyebabkan tangan saya sakit?"
Suasana kelas berubah hening. Tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Kalau gitu, letakkan saja gelas itu di meja."
"Tepat!" kata profesor.

Beban hidup kita sama seperti itu.

Kalau sebuah masalah kita pikirkan dalam beberapa menit, beberapa jam, masih OK.
Namun kalau berhari-hari, berbulan-bulan terus dipikirkan sudah pasti akan membuat kita
sakit.

Memang penting memikirkan problem hidup.
Namun jauh lebih penting kalau bisa "meletakkan' problem itu sebelum kita tidur.
Agar esok hari segar kembali untuk mencari jalan keluarnya. *

Sumber: KCM - Sabtu, 07 Januari 2006

Labels:

posted by .:: me ::. @ 6:50:00 AM   0 comments
:: My Profile ::

... m.y.z.t.e.r.i.o.u.z ...
... click my profile ...
... please don't click ...




Join me on Friendster!

Chat 

With Me
:: Wisdom ::

When we succeed, we are thankful. When we fail, we are also thankful.
The happiness and wealth are in the thankful attitude itself.
[Saat sukses kita bersyukur. Saat gagalpun kita bersyukur.
Sesungguhnya kebagiaan dan kekayaan sejati ada pada rasa bersyukur.]"

Love and attention is power! If all us are willing to share love and attention towards people arounds us, then life will be happier and more meaningfull.
(Cinta dan perhatian adalah kekuatan! Jika setiap hari kita mau memberikan cinta dan perhatian kepada orang-orang di sekeliling kita hidup akan lebih bermakna).

Terkadang manusia terlebih dahulu tenggelam dalam keputusasaannya.
Dengan emosinya mereka mengatakan bahwa masalah yang mereka hadapi sangatlah berat.
Sesungguhnya jika mereka yakin dengan usaha mereka, niscaya Tuhan pasti menjawabnya.

Salah satu cara yang paling efektif untuk memperbaiki diri adalah dengan mengingat dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan.
Karena mungkin saja kesempitan yang dialami saat ini adalah buah dari kesalahan masa lalu dan kita belum memohonkan ampun kepada Allah.

The future is not a result of choices among alternative paths offered by the present, but a place that is created – created first in the mind and will, created next in activity.
The future is not some place we are going to, but one we are creating. The paths are not to be found, but made, and the activity of making them, changes both the maker and the destination.[John Schaar].
:: Recent Post ::
:: Archives ::
:: Menu ::
:: LETTO Fans Blog ::
:: NIDJIholic Blog ::

Click Slide Show
:: Friends ::
:: Games ::
:: Powered By ::

BLOGGER
2006, Ver. 4.0, Design by: Tamtomo~ Email: TamtomoMail~ Please Send Your Comment About Our Blog