:: Sponsored ::


:: Statistic ::


Web Page Counter
Since 25.01.2006
Since 17.Aug.2005

visitor online

:: MP3 Player ::
Tam's MP3 Player
:: Tam's IndoHitz ::
:: Quotation ::
:: Blog Map ::
My Location
:: The Story ::


No Matter What, What You Believe Is True
<$BlogDateHeaderDate$>
Apa pun yang terjadi yang Anda yakini adalah batasan Anda.
--------------
Apa pun pelajaran, contoh, dan pembuktian yang ditunjukkan kepada Anda; tetapi bila yang Anda yakini bertentangan dengan semua pelajaran itu, maka Anda akan berperilaku seperti tidak pernah menerima pendidikan apa pun.
Ingatlah, bila Anda yakin bahwa Anda bisa mencapai sesuatu Anda mungkin benar.
Tetapi, bila Anda meyakini bahwa Anda tidak akan bisa Anda seratus persen benar.
Kebaikan yang tidak Anda yakini tidak akan merugikan Anda, selama Anda tidak meyakini keburukan yang menjadi lawan dari kebaikan itu.
Anda tidak akan bisa menjadi yang bukan Anda.
Maka berhatihatilah dengan kualitas sikap yang Anda pilihkan untuk hati Anda, dan kualitas pikiran yang Anda pilihkan untuk kesadaran Anda.

Apa pun yang terjadi yang Anda yakini adalah kekuatan Anda.
------------
Kita sering melaju di kelandaian kaki sebuah gunung yang besar, memandang dalam keindahan sinar mentari pagi, atau terhuyung oleh dorongan angin yangperkasa; tanpa tergerakkan untuk mengenal kebesaran yang berada di balik kehebatan itu.
Kita sering menganggap ringan hal-hal besar yang berada di sekitar kita-termasuk diri kita sendiri.
Mulai sekarang, janganlah lagi Anda anggap ringan diri Anda sendiri.
Orang lain boleh meragukan kemungkinan-kemungkinan Anda, tetapi Anda tidak.
Alexander The Great dan Genghis Khan tidak mungkin bisa mencapai kebesaran-kebesaran itu dengan menganggap ringan diri mereka sendiri.
Mereka adalah justru orang-orang pertama yang sangat menghormati diri mereka sendiri.
Hormatilah diri Anda sendiri.
Kebesaran yang mungkin Anda capai sangat bergantung kepada berapa besar hormat yang Anda berikan kepada diri Anda sendiri.

Apa pun yang terjadi Anda harus tetap pada tujuan Anda.
-------------
Tidak semua bahaya dalam kehidupan ini belum terjadi.
Tidak sedikit orang yang sebetulnya sedang hidup dalam keadaan yang sangat berbahaya.
Karena, salah satu bahaya besar dalam hidup ini -bukanlah memasang sebuah tujuan yang besar dan tinggi, lalu tidak mencapainya.
Bukan itu. Tetapi memasang sebuah target yang kecil dan rendah, dan kemudian mencapainya.
Bila Anda cukup bersabar mendengar keluhan seseorang yang merasa tersiksa dengan hasil-hasil kecil yang dicapainya, Anda akan perlahan juga mendengar bahwa sebetulnya dia sedang mengeluhkan hasil dari keyakinannya sendiri.

Cobalah untuk menganjurkan kepadanya agar mencoba sesuatu yang lain yang menjanjikan hasil yang lebih besar dan Anda akan segera dikejutkan oleh penjelasannya mengenai mengapa dia tidak pantas atau tidak akan bisa melakukan hal-hal lebih besar yang Anda anjurkan.
Seandainya saja dia mau menetapkan sebuah tujuan yang lebih bernilai, dan seandainya saja dia lebih menghormati dirinya
sendiri ...

Apa pun yang terjadi yang Anda yakini adalah yang akan terjadi.
-------------
Anda akan menjadikan diri Anda seperti yang Anda yakini.
Anda tidak bisa menjadi yang bukan Anda.
Maka bila Anda tidak menetapkan apa yang seharusnya Anda yakini, sebetulnya Anda sedang membiarkan diri Anda menua tanpa rencana.

Apa pun yang Anda yakini adalah nasib Anda.
-------------
Dan Anda dapat mengetahui kualitas dari yang Anda yakini, dengan mengamati kualitas dari keadaan yang sedang Anda hidupi; dan Anda akan mengetahui penghargaan terakhir dari pilihan keyakinan Anda, dengan mengamati kualitas hidup Anda saat kehidupan ini terlampau licin untuk terus melekat pada tulang dan kulit ini.

Apa pun akhir dari kehidupan Anda, Anda memulainya dengan yang Anda yakini.


(Sumber: Mario Teguh)
posted by .:: me ::. @ 12:33:00 PM   0 comments

Bintang Laut
<$BlogDateHeaderDate$>
Ketika fajar menyingsing, seorang lelaki tua berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati angin laut yang segar menerpa bibir pantai.
Di kejauhan dilihatnya seorang anak sedang memungut bintang laut dan melemparkannya kembali ke dalam air.
Setelah mendekati anak itu, lelaki tua itu bertanya heran; 'Mengapa engkau mengumpulkan dan melemparkan kembali bintang laut itu ke dalam air?', tanyanya.

'Karena bila dibiarkan hingga matahari pagi datang menyengat, bintang laut yang terdampar itu akan segera mati kekeringan.' Jawab si kecil itu.
'Tapi pantai ini luas dan bermil-mil panjangnya.' Kata lelaki tua itu sambil menunjukkan jarinya yang mulai keriput ke arah pantai pasir yang luas itu.

'Lagi pula ada jutaan bintang laut yang terdampar. Aku ragu apakah usahamu itu sungguh mempunyai arti yang besar.' Lanjutnya penuh ragu.
Anak itu lama memandang bintang laut yang ada di tangannya tanpa berkata sepatahpun.

Lalu dengan perlahan ia melemparkannya ke dalam laut agar selamat dan hidup. 'Saya yakin usahaku sungguh memiliki arti yang besar, sekurang-kurangnya... bagi yang satu ini.' Kata si kecil itu.

Teman, kita sering kali mendambakan untuk melakukan sesuatu yang besar, namun sering kali kita lupa bahwa yang besar itu sering dimulai dengan sesuatu yang kecil

posted by .:: me ::. @ 6:52:00 AM   0 comments

Bersiap Menghadapi Kehilangan
<$BlogDateHeaderDate$>
Bila Anda siap MENDAPATKAN, sudahkan Anda juga siap KEHILANGAN?
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan.
Dari mulai marah-marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri.
Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar?
Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa.

Sudah cukup lama ia menganggur.
Kondisi finansial keluarganya morat-marit.
Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak.
Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu.

Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok," gerutunya kecewa.
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
"Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran.
Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor.
Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.

Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral.
Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.
Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel.
Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal.

Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel.

Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu.
Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya.
Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu.
Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru.

Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah.

Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar.
Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju.
Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima.

Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.
Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak,mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan?Apa yang diambil oleh perampok tadi? Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh,bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan.

Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah.

Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

(sumber: Unknown)
posted by .:: me ::. @ 12:47:00 PM   0 comments

Takut Untuk Mencoba
<$BlogDateHeaderDate$>
Albert Einstein said;"Anyone who has never made a mistake has never tried anything new."
--------------------------------------------------------------
Setiap orang seringkali merasa takut mengambil tindakan yang keliru ketika menghadapi sesuatu yang baru, entah pekerjaan baru, tempat tinggal baru, teman baru, dan hal lain yang berbau baru.

Seringkali kita merasakan adanya ketakutan, mungkin takut gagal, takut kecewa, takut tidak sesuai dengan harapan, takut tidak bisa menerima kenyataan, takut membuat orang lain kecewa, takut kehilangan teman, takut kehilangan dukungan, takut kehilangan uang, dan segudang ketakutan lain yang mungkin bisa timbul.

Apabila Einstein termasuk orang yang takut untuk mencoba yang baru, mungkin ilmu pasti, fisika dan matematika tidak akan berkembang seperti sekarang, tidak ada yang namanya hukum dan dalil-dalil baru, semua berjalan seperti dahulu kala, tidak ada terobosan-terobosan baru, semua berjalan sesuai dengan yang biasa.

Demikian pula dengan kehidupan kita apabila kita tidak berani mencoba sesuatu yang baru, maka kehidupan akan berjalan terus seperti biasa, seperti aliran air,semua tampak tenang, berhasil dan menyenangkan, namun tiba-tiba bisa ada hal yang mengejutkan kita , ada hal yang membuat kita terpana melihat kenyataan kalau kita sudah melakukan pekerjaan yang sama selama 10, 20, bahkan 25 sampai 30 tahun, mengapa semua ini bisa terjadi , karena kita takut untuk mencoba sesuatu yang baru,takut untuk keluar dari arena kebiasaan kita.

Kita tidak siap untuk menerima kenyataan yang kita rasa adalah kenyataan yang pahit, walaupun mungkin sebenarnya apa yang kita pikirkan itu belum tentu terjadi dan mungkin sebaliknya yang terjadi yaitu keberhasilan..
Kalau ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang baru, yang mungkin belum pernah kita lakukan, mengapa kita tidak berani melangkah untuk mencobanya ?
Ingat ada banyak kesempatan yang lewat dihadapan kita, namun kita siapkah untuk menangkapnya, mungkin itu kesempatan kita untuk mendapatkan berlian.

Sumber: My Millist
posted by .:: me ::. @ 5:43:00 PM   0 comments

Never Say Never Again
<$BlogDateHeaderDate$>
Jangan pernah mengatakan tidak akan pernah lagi.
------------
Memang akan ada hal-hal yang kita janjikan kepada diri sendiri untuk tidak akan pernah kita lakukan lagi. Tetapi, kesungguhan itu seyogyanya ditetapkan untuk hal-hal yang hanya akanmendatangkan keburukan.

Kita sering membatasi kemungkinan pencapaian kualitas hidup yang baik, karena kita membatasi hal-hal yang akan kita lakukan, atau mengesampingkan
orang-orang tertentu dari rencana-rencana kita.

Padahal, segala sesuatu masih bisa berubah.
Yang dulunya menyakitkan, bisa saja sekarang adalah hal termanis yang bisa kita dapatkan.
Atau yang selama ini sangat kita percayai - bisa saja nanti menjadi sumber dari kelalaian terbesar kita.

Orang mengatakan bahwa waktu menyembuhkan semua penyakit.
Tetapi obat yang digunakan oleh waktu - adalah harapan.
Sehingga dia yang mengatakan 'tidak akan pernah lagi' - telah sebetulnya mematikan harapannya sendiri, dan dengannya dia mengesampingkan pengobatan bagi penyakit-penyakit hidupnya.

Jangan pernah membuat keputusan dalam emosiemosi ekstrem.
----------
Sebetulnya, emosi yang menjadikan keputusan kita sebagai penyesalan itu - bukan hanya kemarahan.
Berhati-hati pula lah Anda, bila Anda menemukan diri Anda sedang dalam perasaan sangat bergembira, sangat sedih, sangat cemburu, dan sedang sangat menggila kecintaan Anda kepada seseorang atau sesuatu.

Pada semua emosi itu, kita cenderung untuk membuat keputusan yang berlebihan lebih-nya, atau berlebihan kurang-nya.

Harapan adalah harta terakhir kita.
------------------
Tidak ada orang yang bisa dikatakan miskin, selama dia memiliki harapan.
Dan bandingkan lah, siapa kah yang lebih menarik untuk menjadi rekan se-perjalanan; seorang fakir yang riang karena harapan- harapan baiknya, atau seorang putra raja yang mengeluhkan ketidak-jelasan sikap ayahandanya mengenai siapa yang nanti akan menggantikan beliau di singgasana.

Karena Beliau Yang Memelihara Alam ini tidak beristirahat dalam memastikan pemenuhan kebutuhan dari setiap saudara kita
yang terlemah pun - maka dia yang berputus-harapan telah sesungguhnya membatalkan sifat BeliauYang Maha Merahmati.

Janganlah Anda jadikan kekecewaan Anda sebagai penghalang bagi kemungkinan-kemungkinan Anda.
----------------
Apakah mereka yang mengecewakan Anda itu, yang mungkin juga sedang merayakan dengan tawa tersembunyi atas keberhasilannya dalam merendahkan Anda itu - akan bersimpati bila Anda menjadi pribadi yang gagal?

Bukankah mereka telah juga membuang sebagian dari kita yang lain - dari kebersamaan yang seharusnya saling menyejahterakan?

Pikirkanlah, bukankah Anda hanya akan menjadikan mereka lebih bergembira dengan pelemahan hati Anda oleh Anda sendiri?

Jangan biarkan mereka berhasil melengkapkan kekejaman mereka atas diri Anda.
Jangan katakan 'tidak pernah.' Katakanlah, 'apa yang harus aku lakukan untuk menjadikan perendahan ini sebagai awal dari kenaikan-ku.'

Kebahagiaan mudah datang kepada dia yang jelas dalam kecintaannya, jelas dalam pekerjaannya, dan jelas dalam harapannya.
--------------
Dia yang tidak pernah tegas mengenai apa yang dicintainya, tidak tegas mengenai apa yang dikerjakannya, dan tidak tegas mengenai apa yang diharapkannya - akan sulit menemukan kebahagiaan.
Tetapi bila Anda tegas dalam mengerjakan yang betul-betul Anda cintai, dan Anda melangkahi semua kesulitan - melalui jembatan harapan Anda; maka apa kah yang sebetulnya masih bisa memperlambat perjalanan Anda?

Jangan katakan 'tidak akan pernah.'
-------------
Katakanlah, tidak ada rasa sakit di hati ini - yang bisa menjadikanku lemah.
Perhatikanlah, bahwa mereka yang benar-benar besar - tidak akan pernah mengecilkan orang lain. Dan mereka yang kecil, tidak akan tulus membiarkan orang lain menjadi besar.
Bila Anda dikecilkan, itu pasti oleh orang kecil.
Dan hanya orang kecil yang sakit bila disakiti oleh orang kecil.

(Sumber: Mario Teguh, Becoming A Star)

posted by .:: me ::. @ 5:39:00 PM   0 comments

Bergeraklah...!
<$BlogDateHeaderDate$>
Air, jika dibiarkan terus menggenang, tanpa aliran, lama-lama akan menjadi sarang penyakit. Demikian juga udara, jika dibiarkan berhenti, tak berhembus, akan menimbulkan kepengapan dan akhirnya merusak pernapasan.

Semua harus bergerak. Tidak boleh ada yang diam.
Adalah kenyataan bahwa segala ciptaan Allah selalu bergerak.
Bumi, matahari, bulan, bintang, dan semua tata surya berotasi tiada henti.
Sekali terhenti akan terjadi kerusakan dan bencana yang luar biasa.
Bahkan makhluk-makhluk mikro seperti bakteri dan virus pun bergerak.


Hukum Tuhan yang terjadi pada alam raya itu sesungguhnya terjadi juga pada diri manusia.
Secara fisik, jika manusia berhenti, diam, dan tidak melakukan aktifitas, maka dalam kurun waktu tertentu kesehatannya pasti terganggu.
Selain mudah lelah, berbagai penyakit akan mulai berdatangan.

Demikian pula halnya dengan pikiran.
Seseorang yang membiarkan otaknya berhenti berpikir, maka dalam jangka waktu tertentu pikirannya akan terganggu.
Sulit berpikir logis dan sistematis.Berpikirnya meloncat-loncat, sulit mengingat, dan mudah lupa.

Menurut penelitian ilmiah, orang yang kurang terbiasa menggunakan pikirannya, pada usia tuanya akan menjadi pikun.

Jika rumus pergerakan itu terjadi pada alam dan individu manusia, maka hal yang sama juga pasti berlaku pada sebuah masyarakat dan organisasi.Jangan sekali-kali berhenti, diam, atau stagnan.

Karena diam itu berarti mati.
Diam itu bisa membawa penyakit.
Diam itu tidak sehat.
Jangan takut perubahan, perbaikan, dan pembaruan.

Sebab semua ciptaan-Nya ditakdirkan selalu bergerak dalam sebuah rotasi yang telah ditentukan.

(abadi)

posted by .:: me ::. @ 7:12:00 AM   0 comments

Kita, Apa yang Kita Pikirkan
<$BlogDateHeaderDate$>
Seorang pemuda Indian bertanya kepada kakeknya mengapa dia mudah sekali tersinggung, gampang marah, tdk tenang dan selalu punya prasangka buruk terhadap orang lain.
Dia ingin tahu cara mengubah perangainya...

Sang kakek berkata,bahwa dalam diri manusia ada dua ekor serigala.
Serigala yang satu selalu berpikiran negatif, mudah marah dan selalu punya prasangka buruk.
Sedang serigala yang lain selalu berpikiran positif, baik hati, dan suka hidup damai.
Setiap hari kedua serigala ini selalu berkelahi.

Lalu siapakah yang menang? tanya si pemuda.
Yang menang adalah yg setiap hari kau beri makan, kata sang kakek.

Friends...
Earl Natinghle pernah menuliskan "KITA ADALAH APA YANG KITA PIKIRKAN".
Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan ttg diri kita.
Kenapa sehh...pikiran itu begitu dahsyat pengaruhnya.
Ternyata pikiran2 yg kita masukkan dalam diri kita akan mempengaruhi perilaku kita sehari2, prilaku akan membentuk watak, watak akan membentuk kebiasaan kita dan kebiasaanlah yang akan menentukan nasib kita.

Emang sih nasib manusia itu ditentukan sama Tuhan...btw...manusia juga punya kebebasan loh...menentukan nasibnya sebelum itu terjadi.
Kan Tuhan ga akan merubah nasib umat-Nya kalo manusia itu sendiri ga mau merubahnya, ya toohhh...!!

So,start from thiz dayz mulailah memasukkan pikiran2 positif dalam diri kita juga pikiran2 besar.
Setiap pagi sebelum memulai hari katakan pada diri kita "SAYA BISA,SAYA PASTI BISA...SAYA PASTI BISA MELAKUKANNYA. TIDAK ADA HAMBATAN SEBESAR APAPUN YANG DAPAT MENGHENTIKAN SAYA."

posted by .:: me ::. @ 4:55:00 PM   0 comments

Kisah Sebuah Jam
<$BlogDateHeaderDate$>
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.

"Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?"
"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"
"Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?"
"Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.
"Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?"
"Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali? "Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.
"Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"
"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.
Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti.
Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali.

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat.
Namun sebenarnya jika kita sudah menjalankannya, ternyata kita mampu, bahkan sesuatu yang mungkin semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan.

Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.
posted by .:: me ::. @ 7:00:00 AM   0 comments

Prinsip Pelikan
<$BlogDateHeaderDate$>
“Thus, races arose from an original coding which God pulled out as needed for adaptation to the environment.” -Walter Lang.

Kutipan dari Walter Lang menyatakan bahwa peradaban umat manusia di dunia ini mengalami perkembangan karena senantiasa beradaptasi terhadap lingkungan.

Kalimatnya itu menegaskan bahwa pencapaian perkembangan kehidupan kita saat ini pun tidak lepas dari proses yang menuntut kita untuk mengadaptasikan diri.
Fenomena yang pernah terjadi pada burung-burung pelikan di pantai Monterey, California berikut ini telah menginspirasi saya untuk menjelaskan beberapa hal penting untuk meningkatkan daya adaptasi kita.
Oleh sebab itu saya menyebutnya prinsip Pelikan.

Pantai Pelikan di California Amerika Serikat memang terkenal karena ciri khas burung pelikan yang hidup bebas di sekitar pantai tersebut. Burung-burung pelikan liar itu selalu mendapatkan makanan ikan segar berlimpah dari para nelayan ikan tuna. Mereka berkembang biak dan hidup damai di pantai tersebut.
Tetapi sejak pemerintah memberlakukan undang-undang yang melarang para nelayan menangkap ikan tuna di tempat itu, banyak sekali burung pelikan mati kelaparan. Para ilmuwan berusaha mengatasi persoalan itu dengan berbagai cara, tetapi tidak segera membuahkan hasil. Mereka khawatir burung-burung tersebut akan punah.

Kemudian mereka berinisiatif mendatangkan burung pelikan pesaing dari Florida. Para ilmuwan berharap akan terjadi pembauran dan perkawinan antara burung pelikan Monterey dan Florida, yang menghasilkan bibit pelikan-pelikan yang tangguh dan pandai mencari ikan sendiri. Tetapi dalam waktu singkat dan belum sempat terjadi perkawinan, burung pelikan Monterey sudah mampu berburu ikan sendiri. Kemajuan itu benar-benar menakjubkan.

Burung pelikan yang sudah terbiasa mendapatkan makanan dengan mudah dari para nelayan, tanpa perlu berusaha keras mencari ikan sendiri, cenderung tidak memiliki kekuatan untuk bertahan ketika situasi sudah mengarah pada krisis makanan. Mereka menghadapi kesulitan besar tatkala terjadi sedikit saja perubahan keadaan. Kesulitan yang mereka hadapi dikarenakan mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan beradaptasi.

Kata adaptasi mengacu pada penyesuaian hidup terhadap lingkungan yang terus berubah atau tidak pernah abadi. Secara teoritis seluruh mahluk hidup di dunia ini bersifat adaptif. Sementara kemampuan manusia beradaptasi terhadap bermacam musim maupun keadaan, menurut Henry David Thoreou, melebihi kemampuan mahluk lain di dunia ini. “Man is an animal who more than any other can adapt himself to all climates and circumstances,” katanya.

Manusia yang mampu mengoptimalkan daya adaptasinya terhadap situasi yang terus berubah adalah mereka yang telah mengalami kemajuan konstruktif, misalnya menjadi lebih sukses, lebih pintar, lebih bijaksana, lebih religius dan lain sebagainya. Kualitas diri yang lebih baik cenderung mampu menyiasati tantangan perubahan menjadi suatu peluang yang menguntungkan. Belajar merupakan kunci mewujudkan hal itu.

Berbenah diri sedikit, tetapi dilakukan secara berkesinambungan, lebih mudah meningkatkan kemampuan kita beradaptasi. Kemampuan beradaptasi terhadap tuntutan perubahan akan mendekatkan diri kita terhadap keberhasilan. Karena kesempatan besar akan selalu di depan mata, apabila kita selalu mengembangkan pengetahuan atau keahlian khusus.

Ingatlah perkataan Jose Ortega Gasset, “We distinguish the excellent man from the common man by saying that the former is the one who makes great demands on himself, and the latter who makes no demands on himself. – Kami membedakan orang yang berkualitas dengan orang yang biasa-biasa saja. Orang-orang yang berkualitas akan senantiasa meningkatkan kualitasnya sehingga ia semakin disukai, sedangkan orang yang tidak berkualitas sama sekali tidak melakukan hal itu.”

Kalaupun obyek yang kita pelajari kecil, tetapi akan besar artinya bila digabungkan dengan proses pengalaman belajar itu sendiri. Edmund Vance Cooke menyatakan bahwa semangat untuk mencoba bukan hanya untuk mencapai tujuan itu sendiri, melainkan memperoleh pelatihan dari proses pencapaian itu. “Perhaps the reward of the spirit who tries is not the goal but the exercise, katanya

Sementara bila kita memiliki tujuan jangka pendek maupun jangka panjang yang jelas, maka daya adaptasi kita akan lebih optimal. “All of us perform better and more willingly when we know why we're doing what we have been told or asked to do. – Kita semua menjadi lebih baik dan lebih bersemangat, ketika kita mengerti mengapa kita melakukan hal itu, ” terang Zig Ziglar.

Suatu tujuan yang jelas juga akan membantu kita mengindentifikasi elemen-elemen yang spesifik dari obyek. Terlebih bila standar obyek sudah benar-benar dapat kita mengerti, maka proses adaptasi akan lebih mudah kita jalani. Misalnya Anda ingin menjadi pebisnis jaringan yang handal, maka setidaknya Anda harus mengerti apa sebenarnya elemen prinsip bisnis jaringan. Jika Anda sudah cukup memahami elemen-elemen tersebut, maka Anda akan dengan mudah menyesuaikan diri agar menjadi seorang pebisnis jaringan yang berhasil.

Kemampuan beradaptasi memang sangat penting. Kemampuan tersebut akan meningkat dengan memupuk rasa kasih sayang dalam hati dan pikiran kita. Kalimat-kalimat dan sikap yang dihiasai dengan kasih sayang akan sangat memudahkan kita beradaptasi dengan lingkungan sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan sosial yang luas dan berkualitas adalah pertanda semakin besar peluang tercapainya keberhasilan.

Tetapi sebelum memperluas hubungan sosial, berhati-hatilah dalam memilih komunitas. Pilihlah komunitas yang terbaik sebagai obyek adaptasi, yaitu komunitas yang dipenuhi oleh orang-orang yang berpikiran positif, pekerja keras, dan optimis, penuh vitalitas dan semangat, dan lain-sebagainya yang serba positif. Boleh jadi mereka itulah orang-orang yang memacu diri kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan.

Keberhasilan saya inipun tidak lepas dari proses yang pernah saya alami. Sepanjang proses itulah saya banyak belajar agar mudah mengadaptasikan diri terhadap tuntutan-tuntutan perubahan. Kemampuan beradaptasi memang merupakan ujung tombak dari pencapaian kemajuan atau keberhasilan. Sayapun yakin akan selalu ada keajaiban bila ada semangat yang tinggi untuk terus mengadaptasikan diri terhadap perubahan.

Oleh: Andrew Ho, penulis buku best seller, pengusaha, dan motivator

posted by .:: me ::. @ 6:36:00 AM   1 comments

Memberi, Bukan Mengambil
<$BlogDateHeaderDate$>
Harry mengapa murid-murid kamu pada lebih kaya daripada kamu?” tanya dokter Rully kepada adiknya Harry Roesli.
Spontan seniman nyentrik itu menjawab, ”Itu kan menurut kamu. Kekayaan kan tidak selalu berarti uang!”

Semula dokter Rully sama sekali tidak memahami arti pernyataan spontan itu namun ketika Harry meninggal ia baru tahu apa maksudnya.
Ketika pemakaman Harry berlangsung, yang mengantarnya beribu-ribu orang dari berbagai lapisan kalangan, mulai dari orang-orang penting, artis hingga anak jalanan. Sempat selama beberapa hari, media massa memberitakan kepergiaan seniman yang dikenal sangat dekat dengan anak-anak jalanan di kota Bandung. Tidak terhitung lagi banyaknya orang yang menangisi kepergiaannya. Ia begitu dicintai banyak orang, dari berbagai kalangan.

Harry memang membaktikan hidupnya bagi kesenian, termasuk membina banyak sekali anak jalanan di Bandung. Kalau Anda melihat anak jalanan di Bandung yang sopan, dapat memainkan alat musik dengan baik dan bernyanyi dengan suara yang bagus, ada kemungkinan ia binaan Harry Roesli. Sewaktu masih menjadi wartawan, saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana Harry Roesli merayakan hari ulang tahunnya dengan para anak jalanan di rumahnya di Jalan Supratman, Bandung. Kang Harry –begitu ia biasa disapa- juga dikenal dekat dengan wartawan.

Ia mengajarkan kita banyak hal dalam hidup ini. Terutama untuk mau bersikap kritis kepada penguasa yang sewenang-wenang. Bukan rahasia lagi kalau ia pernah diteror akibat protes-protes sosial yang ia lakukan. Terkadang protes itu dilakukan dengan ceplas-ceplos penuh humor atau dalam konteks bercanda.

Kalau ingat kepada Kang Harry, kita jadi teringat sebuah pepatah dari timur tengah yang berbunyi, ”When you were born, you cried, and the world rejoiced. May you live your life so that when you die, the world will cry, and you will rejoice.” Ya, alangkah bahagianya orang yang ketika ia ia datang ke dunia ini, ia datang dalam keadaan menangis dan keluarganya menyambut dia dengan penuh sukacita. Namun ia akan jauh lebih berbahagia jika pada saat menutup mata nanti ia bisa melakukannya dalam keadaan tersenyum dan bersukacita lalu begitu banyak orang menangisi kepergiaannya.

Jika Anda menjalani hidup Anda dengan baik dan menjadikannya berguna bagi orang banyak maka Anda tidak akan takut saat menghadapi hari kematian. Yang menjadi masalah bukanlah kematian namun kehidupan yang sia-sia.”
Pada akhirnya semua manusia yang berakali budi tentu ingin dapat meninggal dalam keadaan damai, tenang dan bahagia. Hal itu hanya biasa terjadi jika ia mendedikasikan hidupnya bagi orang lain. Motivasinya dalam hidup adalah memberi bukan mengambil.

Guru marketing, Hermawan Kartajaya dalam bukunya Hermawan Kartajaya on Marketing mengatakan, “Kalau meninggal, saya ingin dikenang di nisan saya ‘Di sini berbaring Hermawan Kartajaya the great marketing contributor’, semacam itulah. Jadi saya bicara bolak-balik supaya nanti anak dan cucu saya ingat.” Itulah Hermawan mendedikasikan hidupnya bagi marketing. Begitu banyak orang di negeri ini yang kemudian jadi “melek” marketing karena Hermawan. Konsep marketing yang dibuatnya juga sudah diakui di berbagai negara. Ia adalah pakar marketing kelas dunia.

Anthony Campolo pernah menceritakan ulang suatu studi sosiologis dari lima puluh orang di akhir usia sembilan puluhan. Mereka ditanya, seandainya Anda bisa mengulang kehidupan Anda lagi, hal apakah yang akan Anda lakukan secara berbeda? Itu adalah sebuah pertanyaan terbuka dengan kemungkinan jawaban yang sangat beragam namun inilah jawaban yang paling banyak didapat adalah:

Pertama, seandainya saya harus mengulang kembali kehidupan ini, saya akan lebih banyak merenung.
Kedua, seandainya saya harus mengulang kembali kehidupan ini, saya akan lebih banyak mengambil risiko.
Ketiga, seandainya saya harus mengulang kehidupan ini, saya akan mengerjakan hal-hal yang tetap langgeng setelah saya berpulang nanti.

Bagaimana tanggapan atas ketiga jawaban tersebut? Satu hal yang bisa kita tangkap.
Orientasi mereka bukan lagi mengambil sebanyak-sebanyaknya dari dunia ini, melainkan memberikan kontribusi positif agar dunia bertambah baik ketika mereka meninggalkannya. Jawaban-jawaban di atas sungguh membuat hati saya terharu. Betapa indahnya hidup ini jika setiap anak negeri memiliki pola pikir ’saya harus berbuat sesuatu agar keadaan bertambah baik dibandingkan sebelum saya hadir di bumi pertiwi ini’.
Bagaimana menurut Anda? ***

Sumber: PWinarto


posted by .:: me ::. @ 6:38:00 AM   0 comments

Hidup Ini Indah Jika Kita Mendengarkan
<$BlogDateHeaderDate$>
Dunia penuh dengan kebisingan dan obsesi.
Genderang-genderang kehidupan ditabuh dengan suatu irama dan kita berjuang menjaganya.
Sebagai orang dewasa, kita terkadang kehilangan kemampuan untuk mendengarkan apa yang dikatakan alam semesta.

Karena pesan-pesannya tenggelam oleh deruteknologi atau papan iklan komersial.
Berkah yang mencari jalan menuju kehidupan kita kadangkala berbisik tanpa guna.
Kita berkata namun kita tak dapat mendengarnya atau jika kita bersuara kita tak dapat mengartikan pesan itu.

Hal ini tak selalu demikian. Sebagai anak-anak, kita menghidupkan dongeng dan petualangan yang dibacakan bagi kita.
Kita berkelana dalam imajinasi. Kita menyapa kenyataan dengan keajaiban.
Kita mendengarkannya, pada tetes-tetes air hujan di malam musim panas mereka, pada detakan jantung ibu manakala kita berbaring di atas dadanya, pada lagu pagi hari dari burung-burung yang tak dapat bernyanyi di luar jendela.

Kita ditakdirkan untuk mendengarkan dunia dengan telinga-telinga kehidupan.
Kita dapat menemukan jalan dengan kemampuan mendengarkan yang sebenarnya.
Apa yang kita dengar, akan dedengar lagi. Dan lebih.

Mendengarkan merupakan sebuah langkah menuju kesadaran, menuju pemahaman tentang siapa diri kitadan bagaimana seharusnya kita sebagai makhkluk hidup yang dikelilingi oleh api kehidupan yang penuh dengan berbagai kesempatan.

Kita dapat menyelaraskan instrument hati kita untuk mendengarkan, dan lagu kehidupan akan bergetar lebih dalam melalui diri kita dan keajaibanpun akan mengalir.

Dalam keheningan jiwa kita akan sanggup mengartikan segala pesan yang dikirimkan oleh alam dan hidup akan indah....

Tam's, 09.05.06
posted by .:: me ::. @ 6:43:00 AM   0 comments

Terbang Bersama Keheningan
<$BlogDateHeaderDate$>
BERAT, itulah kata yang bisa mewakili tantangan hidup kekinian. Orang miskin dihadang penyakit di sana-sini. Orang kaya alisnya dibikin berkerut oleh berbagai masalah.
Sebagian malah sudah dipenjara, sebagian lagi menuggu giliran untuk beristirahat di tempat yang sama.


Manusia biasa menggendong berbagai beban ke sana ke mari (dari mencari nafkah, menyekolahkan anak sampai dengan mempersiapkan hari tua), pejabat maupun pengusaha juga serupa: senantiasa ditemani masalah kemanapun ia pergi. Di desa banyak orang mengeluh, luas tanah tetap namun jumlah manusia senantiasa tambah banyak. Sehingga setiap tahun memunculkan tantangan penciptaan lapangan kerja. Bila tidak terselesaikan ia bisa lari kemana-mana. Dari kejahatan sampai dengan kekerasan. Digabung menjadi satu, jadilah kehidupan berwajah serba berat di sana-sini.

Tidak saja di negara berkembang, di negara maju sekali pun tantangannya serupa. Kemajuan ekonomi Jepang yang demikian fantastis tidak bisa mengerem angka bunuh diri. Kemajuan peradaban Amerika tidak membuat negara ini berhenti menjadi konsumen obat tidur per
kapita paling tinggi di dunia. Jangankan berbicara negeri Afrika seperti Botswana. Rata-rata harapan hidup hanya 30-an tahun. Orang dewasa di sana lebih dari 80 persen positif terjangkit HIV. Sehingga menimbulkan pertanyaan, "Demikian beratkah beban manusia untuk hidup?"


Ada sahabat yang menghubungkan beratnya hidup manusia dengan hukum gravitasinya Newton yang berpengaruh itu. Sudah menjadi pengetahuan publik, kalau Newton menemukan hukum ini ketika duduk di bawah pohon apel, dan tiba-tiba buahnya jatuh. Sehingga Newton muda berspekulasi ketika itu, ada serangkaian hukum berat (baca: gravitasi) yang membuat semua benda jatuh ke bawah. Sahabat ini bertanya lebih dalam, "kalau gravitasi yang menarik apel jatuh ke bawah, lantas hukum apa yang membawanya naik ke puncak pohon apel?" Dengan jernih ia menyebut "The law of levitation" (hukum penguapan). Kalau gravitasi menarik apel ke bawah, penguapan menariknya ke arah atas.

Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, sahabat ini mengaitkan kedua hukum fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: "Hate is under the law of gravity, love is under the law of levitation." Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah sekali membuat manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitan dengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat manusia ringan dan terbang ke atas. Sungguh sebuah bahan renungan kehidupan yang cerdas dan bernas.

Kembali ke soal hidup manusia yang serba berat, tidak ada manusia yang bebas sepenuhnya dari masalah. Bahkan ada yang menyederhanakan kehidupan dengan sebuah kata: penderitaan! Hanya saja kebencian berlebihan yang membuat semua ini menjadi semakin berat dan semakin
berat lagi. Ada yang benci pada diri sendiri, ada yang membenci orang tua, suami, istri, teman, tetangga, atasan kerja, sampai dengan ada yang membenci Tuhan.


Perhatikan wajah-wajah manusia kekinian yang miskin senyum, yang mudah tersinggung, yang senantiasa minta diperhatikan, penerimaan bulanan yang serba kurang, dan masih bisa ditambah lagi dengan yang lain. Semuanya berakar pada yang satu: kebencian! Sehingga mudah dimengerti kalau perjalanan hidup seperti buah apel, semakin tua semakin berat dan semakin ditarik ke bawah.

Terinspirasi dari sinilah, kemudian sejumlah guru mengurangi sesedikit mungkin berjalan dalam hidup dengan beban-beban kebencian. Dan mencoba menarik kehidupan ke atas menggunakan sayap-sayap cinta. Semua perjalanan cinta mulai dari sini: mencintai kehidupan. Makanya sahabat-sahabat penekun meditasi Vipasana berkonsentrasi pada keluar masuknya nafas. Tidak saja karena membuat manusia mudah terhubung dengan hidup, tetapi berpelukan penuh cinta dengan kehidupan.


Dan segelintir penekun Vipasana yang telah berjalan amat jauh, kemudian mengalami cosmic orgasm. Semacam orgasme kosmik yang ditandai oleh terlihatnya keindahan di mana-mana. Karena semuanya terlihat serba indah, tidak ada lagi dorongan untuk mencari jawaban.
Bahkan pertanyaan sekalipun sudah lenyap dari kepala. Ini yang disebut seorang guru dengan terbang bersama keheningan.


Ada yang menyebut ini dengan emptiness. Sebuah terminologi timur yang amat susah untuk dijelaskan dengan kata-kata manusia. Namun Dainin Katagiri dalam Returning to Silence, menyebutkan: "The final goal is that we should not be obsessed with the result, whether good, bad or neutral." Keseluruhan upaya untuk tidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti hukum alam: kerja, kerja dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari. Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada awan, matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari dimana pun ia akan terbenam.
Mirip dengan matahari yang tugasnya berbeda dengan awan dan bintang.


Kita manusia juga serupa. Pengusaha bekerja di perusahaan. Penguasa bekerja di pemerintahan. Pekerja bekerja di tempat masing-masing. Penulis menulis. Pertapa bertapa. Pencinta yoga beryoga. Pengagum meditasi bermeditasi. Semuanya ada tempatnya masing-masing.
Ada satu hal yang sama di antara mereka: "Menjadi semakin sempurna di jalan kerja".


Soal hasil, sudah ada kekuatan amat sempurna yang sudah mengaturnya. Keinginan apalagi kebencian, hanya akan membuatnya jadi berat dan terlempar ke bawah.

Sumber: Gede Prama

Labels:

posted by .:: me ::. @ 12:43:00 PM   1 comments

Miracle,Is For The Brave
<$BlogDateHeaderDate$>
Ada dua keajaiban dalam kehidupan kita, yaitu keajaiban sebagai akibat, dan keajaiban yang menjadi udara yang kita hirup.

Bila Anda meyakini akan adanya keajaiban, maka hanya ada dua cara untuk menjalani hidup ini - yang pertama, mengupayakan pencapaian kualitas hidup ini seolah- olah tidak ada keajaiban bagi Anda, kecuali bila Anda menyebabkan keajaiban itu; dan yang kedua, adalah menikmati hidup seolah-olah segala sesuatu dalam kehidupan ini adalah keajaiban.

Keyakinan yang pertama akan menjadikan Anda mengubah nasib, dan yang kedua akan menjadikan Anda mudah bernasib baik.

Walau pun keajaiban itu ada, tetapi kekuatannya bergantung kepada keyakinan Anda.

Untuk Anda yang betul-betul meyakini adanya keajaiban, sesungguhnya Anda tidak lagi membutuhkan keajaiban - karena keberserahan Anda kepada hukum sebab- akibat-nya - akan menjadikan Anda berhak hidup dalam keajaiban.
Tetapi bila Anda meragukan, dan bahkan lebih buruk lagi - menolak adanya keajaiban, tidak akan ada keajaiban yang cukup untuk membantu Anda.
Karena, bahkan bila keajaiban itu ada di hadapan mataAnda – Anda akan menelantarkannya seperti sepatu usang.

Keajaiban terlahirkan dari ibu yang disebut 'kesulitan' dan ayah yang disebut 'upaya'.

Tidak ada keajaiban yang diperlukan, bila kita tidak sedang dirundung kesulitan.
Sehingga sebetulnya ukuran keajaiban yang menjadi hak Anda adalah sebanding dengan ukuran kesulitan Anda.
Maka, melalui linangan air mata itu retakkan lah secarik senyum penuh harap, karena sebetulnya sedang dijanjikan sebuah keajaiban besar bagi Anda.

Namun ingat lah, bahwa pemunculan keajaiban itu sering tertahan oleh tutup batu berat yang hanya bisa terangkat oleh kesungguhan upayaAnda.

Upaya pembebas keajaiban harus bertenaga besar, dan tenaga itu adalah keberanian.

Tidak sedikit orang, mungkin juga termasuk kita, yang sebetulnya sudah meyakini bahwa tidak akan datang perubahan nasib bagi seseorang kecuali bila ia berupaya.
Tetapi keyakinan itu hanya tampil sebagai ungkapan bijak yang keluar dari bibir yang ju-ga giat memberikan penje-lasan mengapa dia masih menunda rencana-rencana bagi keberhasilannya.

Seharusnya seseorang yang yakin adalah seorang yang berani, karena keyakinan adalah kunci menuju penyerahan.
Dan orang yang berserah tidak memiliki lagi keraguan.
Dan tidak adanya keraguan adalah sama dengan keberanian.
Lalu bila Anda sudah lantang menyebut diri Anda seorang yang beriman, manaa…
keberanian-nyaa…?

Keberanian adalah kekuatan untuk bertahan sedikit lebih lama.

Sebetulnya setiap pribadi biasa dan rata-rata akan menjadi seorang panglima yang gagah berani - bila saja dia bersedia untuk memaksa dirinya untuk bertahan dalam upayanya - sedikit lebih lama daripada mereka yang paling berani.
Karena kekuatan untuk bertahan itu mudah bagi yang dia sudah terjepit dan tersudut, maka sebetulnya janji akan datangnya keajaiban kepada dia yang berani adalah sebuah keniscayaan.


(Sumber: Becoming A Star, Mario)
posted by .:: me ::. @ 6:56:00 AM   0 comments

Mengikis Sikap Otoriter
<$BlogDateHeaderDate$>

Salah satu yang berbahaya diantara penyakit hati yang kita miliki adalah sifat egois, sifat tidak mau kalah, sifat ingin menang sendiri, sifat ingin selalu merasa benar, atau sifat ingin selalu merasa bahwa memang dirinya tidak berpeluang untuk berbuat salah. Sifat seperti ini biasanya banyak menghinggapi orang-orang yang diamanahi kedudukan—seperti para pimpinan dalam skala apapun.

Sifat-sifat tadi ujung-ujungnya akan bermuara pada sikap otoriter, bahkan lebih jauh lagi menjadi seorang diktator (suatu sebutan yang diantaranya dinisbahkan pada pemimpin pemerintahan NAZI Jerman, Adolf Hitler atau pada pemerintahan fasis Italia zaman Benito Musolini, dan juga para pemimpin diktator dunia lainnya).

Pastilah pula kita tidak akan pernah nyaman mendengar kata-kata seperti itu dan kita juga tidak akan pernah suka melihat orang yang otoriter, yang segalanya sepertinya harus dalam genggamannya. Dan hasilnya kita tahu sendiri bahwa orang-orang yang memiliki cap otoriter, orang yang selalu ingin segalanya dalam kekuasaannya, semuanya tunduk dan patuh kepadanya, ujungnya adalah kejatuhan dan kehinaan.

Dari segi namanya saja sudah menimbulkan kesan tidak enak untuk didengar kuping. Simaklah kata, "otoriter", "egois", atau "menang sendiri" sepertinya kita menangkap kesan yang kurang sreg dengan kata-kata ini. Apalagi jika melihat langsung orang yang memiliki sifat seperti itu, akan lebih tidak suka lagi. Tapi sayang, sepertinya kita jarang menyisihkan waktu untuk bertanya secara jujur pada diri sendiri, apakah sifat-sifat itu ada pada diri kita atau tidak? Apakah kita ini orang otoriter atau bukan? Maaf-maaf saja kepada para orang tua, guru, manager, pimpinan, direktur, komandan, bos, pokoknya orang-orang yang diamanahi kekuasaan oleh ALLOH, biasanya memiliki kecenderungan sifat seperti ini.

Orang-orang yang otoriter biasanya memiliki versi tersendiri dalam menilai suatu kejadian, versi yang sesuka dia tentunya. Hal ini karena dia selalu memandang lebih dirinya sehingga selalu melihat sesuatu itu kurangnya dan jeleknya saja. Akibatnya sebaik apapun yang dilakukan orang lain selalu saja dari mulutnya meluncur omelan, gerutuan, dan koreksian. Tepatlah baginya pepatah, ‘nila setitik rusak susu sebelanga’. Artinya, karena kesalahan sedikit, jeleklah seluruh kelakuannya. Bagi orang otoriter, biasanya tidak ada pilihan lain selain 100% harus sesuai keinginannya.

Hasil kajian sebuah penelitian menyebutkan bahwa para korban NAPZA (Narkotika, Pshikotropika, dan Zat Aditif lainya) diantaranya adalah mereka yang tumbuh besar dari kalangan orang tua otoriter, keras, mau menang sendiri, tidak mau berkomunikasi, dan tidak ada dialog antar anggota keluarga sehingga si anak menjadi seorang yang bersikap apatis, acuh, bahkan akhirnya si anak melarikan rasa ketertekanannya ini ke NAPZA, naudzhubillah.

Ada pula anak yang selalu bentrok dengan ibunya, karena si ibu begitu menuntut agar dia nurut 100% tanpa reserve. Kondisi ini dibarengi pula dengan penilaian kepada anak yang selalu negatif, akibat yang diungkapkan si ibu selalu sisi-sisi yang salah dari diri si anak. Munculah ungkapan, "Sedikit-sedikit salah-sedikit-sedikit salah!", bahkan saking kesalnya si anak ini berkata, "Kalau saya ini salah terus, lalu kapan benarnya saya sebagai manusia ini? Kenapa semua yang saya lakukan selalu disalahkan?!". Padahal kalau si anak belum mengerti seharusnya orang tua yang lebih dulu mengerti, kalau si anak belum bisa paham seharusnya orang tua yang duluan paham. Tapi karena orang tuanya tidak mengerti dan kurang ilmu, akhirnya tanpa disadari si ibu telah menggiring dan menjerumuskan anaknya ke dunia NAPZA.

Ternyata beginilah, gaya mendidik yang otoriter, yang kaku, dan kurang komunikatif akan menghasilkan anak-anak dalam kondisi tertekan, tidak aman, hingga ujungnya ia lari dari kenyataan yang dihadapinya. Begitupun di kantor-kantor atau perusahaan-perusahaan yang memiliki pimpinan bertife otoriter, pastilah dia akan membuat karyawannya tertekan. Hal ini dapat diamati saat pimpinannya datang ke ruang kerja karyawannya, semua karyawan menjadi tegang, gugup, dan panik. Ini terjadi karena kalau pimpinan datang, maka yang dilihat hanya kesalahan-kesalahan karyawannya saja. Mengapa begini? Mengapa begitu? Ini salah! Itu Salah! Jarang memuji, jarang menghargai, jarang menyapa dengan baik, bahkan wajahnya menyeramkan dan angker karena sangat jarang senyum. Pada akhirnya karyawan disiplinnya menjadi disiplin takut atau disiplin semu, padahal sebenarnya karyawan merasa tertekan, sakit hati, dan bahkan benci ke si pimpinan yang otoriter ini.

Diantara ciri perusahaan dengan kondisi seperti ini adalah ditandai dengan perputaran keluar-masuk karyawan yang sangat tinggi. Semua karyawan dari yang level tertinggi sampai yang level terendah maunya keluar saja. Kalaupun ada yang bertahan, bukan karena senang bekerja di sana, kebanyakan yang bertahan memang karena butuh saja. Butuh uangnya, bukan butuh suasananya.

Oleh sebab itu, hati-hatilah bagi para pemimpin yang otoriter, dan bersiap-siaplah menjadi orang yang tidak disukai karena saking banyaknya orang yang merasa teraniaya. Orang otoriter itu marahnya saja biasanya dilakukan di sembarang tempat, asal dia ketemu dengan yang dimarahinya, marahnya akan meledak-ledak. Padahal kemarahan seperti itu justru akan mempermalukan si pemarah itu sendiri karena orang yang melihatnya akan mengeluarkan penilaian yang negatif kepada dia. Misal, "Kok marahnya gitu-gitu amat, padahal dia haji, padahal dia pejabat". Orang-orang yang marah biasanya omongannya juga jelek sekali, kata-katanya kasar dan menyeramkan. Jadi ketika si pemarah itu marah, yang dimarahi bukannya malah nurut atau bukannya malah simpati, yang terjadi justru orang itu akan mengeluarkan penilaiannya sendiri. Walaupun nampak seperti nunduk atau manggut-manggut, tapi hati tidak pernah bisa dibohongi, tidak pernah bisa dibeli dengan kemarahan. Yang ada justru orang itu akan menjadi sakit hati, dongkol dan merendahkan orang yang marah walaupun mungkin pada saat itu ia tidak berani mengekspresikannya.

Hati-hati nih bagi para pimpinan yang suka marah-marah, terutama orang-orang yang tidak biasa jadi bawahan, kadang-kadang ia agak otoriter. Dalam keluarga militer memang kecenderungan sifat otoriter muncul di keluarga itu akan jauh lebih kuat, karena memang jalur komando ala militer kadangkala diberlakukan oleh pimpinan di keluarga itu dengan konsep militer. Celakanya di kantor dididik dalam gaya hidup ala militer, sayangnya di rumah mendidik dengan gaya yang sama, mendidik dengan gaya ala militer, padahal kondisi kantor dan kondisi rumah berbeda.

Pernah ada sebuah keluarga dengan empat anak, ternyata tiga diantaranya mengalami depresi berat karena sang ayah terlalu kaku dalam memimpin rumah tangga yang pengelolaannya disamakan seperti di kantornya. Jangan heran bila ada orang yang sukses di kantor belum tentu sukses di rumah tangga. Ada yang "sukses" di kantor itu karena ia begitu tegasnya sebagai seorang komandan, tapi di rumahnya anak-anak itu beda, karena memang mereka bukanlah militer, mereka tidak dilatih kemiliteran dan terlebih lagi mereka tidak dikasih pangkat.

Perlu diwaspadai pula bahwa biasanya pemimpin yang otoriter akan membuahkan pula bibit–bibit anak didik yang otoriter. Seperti guru yang otoriter, akan menghasilkan anak-anak didik yang otoriter pula, bahkan nakal. Guru yang otoriter di kelas, diantara sifat-sifatnya adalah maunya menang sendiri, kata-katanya tajam, dan suka mempermalukan. Kelakuan ini sebenarnya akan jadi bumerang bagi guru itu sendiri, seperti tidak disukai pelajarannya, tidak disenangi perangainya, dan tentu saja ini suatu hal yang kontra produktif. Apalagi perilaku-perilaku seperti ini sangat bertentangan dengan sikap-sikap yang dituntunkan Rasulullah SAW yang ternyata memiliki pribadi yang sangat indah, santun, dan berakhlak mulia.

Bagi orang yang bagus perangainya, berwajah ceria, serta mulia akhlaknya maka ia laksana mawar yang kuncup di musim semi, dia akan beroleh banyak teman yang membawa kedamaian dan ketentraman, semua pintu terbuka baginya. Sementara orang pemberang, mudah marah, egois, dan otoriter harus menggedor pintu untuk bisa sekedar berbincang dengan seorang kawan. Karenanya, yang terbaik adalah keramahan akhlak dan keceriaan. Rasulullah SAW sendiri adalah seorang yang senantiasa berwajah cerah ceria penuh sungging senyuman, insya ALLAH.


(Oleh: AA Gym)
posted by .:: me ::. @ 6:58:00 AM   1 comments

Genie In The Bottle
<$BlogDateHeaderDate$>
Hanya ada satu keberhasilan - yaitu bebas melakukan sesuatu yang kita sukai.
-----
Jangan pernah menerima pekerjaan yang tidak Anda sukai.
Bila Anda terpaksa melakukan yang tidak sepenuhnya Anda sukai, minimal Anda sedang merencanakan untuk menemukan atau menciptakan pekerjaanyang Anda sukai.
Bila Anda menyukai pekerjaan Anda, Anda akan menyukai diri Anda sendiri.
Dan bila Anda menyukai diri Anda sendiri, Anda akan menjadi lebih menyenangkan bagi orang lain, dan orang lain pun akan menjadi lebih menyenangkan bagiAnda.
Anda berkesempatan lebih besar untuk berhasil dalam hal-hal yang Anda sukai, karena Anda akan mudah mendorong diri Anda sendiri untuk mengetahui lebih banyak dan lebih terampil dalam pekerjaan Anda.
Dan yang lebih penting lagi, Anda akan melihat masalah dan kesulitan sebagai biaya yang wajar untuk mencapai keberhasilan.

Bila Anda membenci yang Anda kerjakan, Anda akan menjadi pengeluh yang menghebat dengan semakin menua-nya diri Anda.
Anda akan mulai melihat masalah-masalah Anda sebagai pengalaman permanen bagi diri Anda. Anda tidak melihat bahwa yang Anda kerjakan akan menjadi pemungkin bagi pencapaian cita-cita Anda.
Anda tidak melihat apa pun yang Anda upayakan - akan ada gunanya.
Anda tidak akan pernah menjadi se-kuat sebagaimana Anda seharusnya.
Anda akan memboroskan hidup Anda dengan bekerja separuh hati, danAnda akan menerima bahwa dengan sikap seperti itu - Anda tidak berhak menuntut lebih dari yang sekarang sudah Anda terima.

Menerobos keluar dari kerata-rataan.
----------------------
Hari ini, bermain aman adalah permainan yang paling tidak aman.
Hari ini, untuk berhasil Anda harus ekstra bagus.
Rekan dan pesaing Anda telah mengetahui bahwa 'baik' saja tidak lah cukup, bila 'lebih baik' masih mungkin.
Hari ini, Anda tidak harus berkualitas rendah - untuk gagal; tetapi cukup dengan kualitas rata-rata.

Hanya ada dua arah yang bisa Anda ambil untuk meninggalkan kerata-rataan; yang pertama, adalah dengan menjadi lebih rendah dari rata-rata, dan yang kedua adalah menjadi pribadi yang menonjol - yang sedang dalam perjalanan menuju kebintang-an Anda.

Tidak boleh ada seorang pun yang boleh ramah kepada pikiran bahwa dia adalah orang kecil yang lemah.
Tidak ada seorang pun yang bisa dianggap kecil, bila hal-hal kecil yang dilakukannya akan menjadi sesuatu yang besar pada saatnya nanti.
Bukan hal-hal besar - yang menjadikan orang-orang besar itu; tetapi hal-hal yang lebih kecil yang dikerjakan dengan kekuatan impian-impian besar dan pengabdian yang setia.

Dari sekarang dan seterusnya, Anda harus menyesuaikan semua yang Anda kerjakan agar cocok dengan rencana-rencana Anda.
----------------
Akan sangat sulit bagiAnda untuk menemukan seseorang yang dalam rencana pencapaian keberhasilannya - termasuk juga rencana bagi keberhasilan
Anda. Mereka betul-betul lupa untuk mengikutkan Anda dalam rencana-rencana keberhasilan mereka.
Itu sebabnya, Anda harus merencanakan keberhasilan Anda sendiri.
Bila Anda belum mampu untuk mengerjakan yang paling Anda sukai, maka pastikan lah bahwa apa pun yang sedang Anda kerjakan - melayani rencana keberhasilanAnda.
Bekerja lah dengan pengetahuan yang lengkap bahwa Anda bekerja dalam rencana keberhasilan orang lain - tetapi lakukan lah dengan cara-cara yang akan menjadikan Anda juga berhasil.

Hari ini, Anda akan berhenti bertahan dan tidak lagi menolak kebutuhan Anda untuk menjadi pribadi yang berhasil.
-----------------
Yakini lah bahwa bila mungkin bagi Anda untuk gagal - mungkin juga bagi Anda untuk berhasil.
Lalu mengapakah Anda terkadang - bila tidak sering - lebih terpaku kepada kemungkinan gagal?

Mengapakah Anda lebih ramah kepada anjuran untuk menjadi orang biasa, dan seperti tidak tertarik untuk menjadi pribadi yang bernilai?
Dan apakah yang membuat Anda berupaya mengosongkan tidur Anda dari impian-impian mengenai kebesaran pribadi Anda?

Bagaimana mungkin Anda akan mencapai sesuatu yang besar, bila Anda melarang diri Anda sendiri mengupayakan sesuatu yang lebih besar dari diriAnda sendiri sekarang?
Sudah lah …, berhenti lah menolak undangan penuh kasih kepada Anda untuk menjadikan diri Anda mencapai yang telah terbukti dicapai oleh mereka - yang keberhasilannya terkadang mengusik keikhlasan dan ketenangan hati Anda.

Menjadi pribadi yang baru dan lebih berkualitas.
-----------
Kehidupan Anda adalah jumlah total dari keefektifan keputusan-keputusan Anda; baik yang lalu, yang hari ini, dan yang masih akan Anda buat di masa depan.
Hari ini, buat lah keputusan-keputusan yang lebih baik dan yang lebih tegas.
Anda dinilai oleh orang lain, bukan hanya karena kemampuan Anda, tetapi - lebih akut - karena pilihan keputusan Anda.
Orang lain akan mempercayakan hal-hal yang lebih besar kepada Anda bila Anda tampil lebih bersungguh-sungguh untuk membuat pilihan-pilihan yang lebih berkualitas bagi kehidupan pribadi dan profesional Anda.

(Sumber: Mario Teguh)

posted by .:: me ::. @ 12:07:00 PM   1 comments

Wonderfull Words
<$BlogDateHeaderDate$>
Setiap orang, kalau boleh jujur, lahir lengkap dengan potensi keberhasilannya! sayangnya, ibarat orang mau berjalan dan berlari, banyak orang yang menggembok dirinya dengan banyak sekali gembok2 kemajuan.

Dan berbeda dengan gembok sebenarnya. Gembok2 kemajuan dipasang oleh yang bersangkutan, dan harus dibuka oleh orang yang memasangnya.

Kehadiran orang lain, hanya menghadirkan informasi dan pembanding saja.
Ada sejumlah gembok berbahaya dan sadis yang tanpa sadar dipasang oleh banyak orang dalam diri dan kehidupannya.
Untuk kemudian, menghambat setiap kemajuan.

Gembok yang paling berbahaya bernama gembok "tidak mungkin".
Setiap upaya dan usaha kemajuan, selalu dan senantiasa dihadang oleh rantai besar atau pagar tinggi dengan judul 'tidak mungkin'. Padahal, potensi manuasia mirip dengan mesin turbo yang siap terbang dengan kecepatan tinggi.

Gembok sadis lainnya bernama"tidak bisa dan tidak yakin".
Fundamental dalam gembok ini bersifat memasung dan membelenggu,dipasang oleh yg bersangkutan, dan harus dibuka oleh orang yang sama.

Disamping itu ia dipasang secara perlahan, lama dan meyakinkan melalui proses waktu yang panjang.

Datangnya melalui jendela2 pengalaman, pendidikan sekolah dan orang tua atau keyakinan2 yang kita endapkan.
Mirip dengan benih yang tumbuh dilahan subur, gembok dan belenggu ini menjadi semakin subur dan semakin besar, terutama melalui kesukaan untuk memuaskan dan menurutinya selalu.
Ketika gembok ini datang dan memasung, banyak orang yang secara tidak sengaja menyapa dan memuaskannya.

Secara lebih khusus, melalui kesukaan kita untuk senantiasa mengikuti seluruh petunjuk2 nya.
Sebagai hasilnya, jadilah kehidupan banyak orang sejenis kehidupan yang penuh dengan gembok dan tembok yang memasung dan membatasi.
Untuk alasan terakhir ini, kita memerlukan usaha sengaja untuk keluar dari gembok2 ini.
Dan ada banyak cara untuk keluar dari belenggu terakhir.

Pertama ada rumus 3 C ( Coba,Coba,Coba ).
Jangan pernah lupa, kesempurnaan akan menjadi milik siapa saja yang rajin mencoba.
Dibidang apapun,didalam usaha apapun, kemampuan mencoba adalah kemampuan yang amat menentukan.

Beda antara orang beruntung dengan yang kurang beruntung, hanyalah dalam jumlah dan frekwensi kita dalam mencoba.

Disamping itu, senantiasa ada kesenjangan antara ambisi dan kemampuan, ia selalu bisa dijembatani oleh "usaha".

Inilah kemampuan yang dimiliki oleh setiap manusia, yang bisa membawa kita pada tangga2 kehidupan yang lebih tinggi.

Dimanapun Anda bekerja, dibidang apapun tangga2 keberhasilan sedang diraih, usaha adalah mesin turbo yang membawa manusia pada tataran kehidupan yang lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi.

(Oleh: Gede Prama)
posted by .:: me ::. @ 6:36:00 AM   1 comments

Time, Changes Everything
<$BlogDateHeaderDate$>
Waktu mengubah semua hal, kecuali kita.
----------------
Kita harus melakukan perubahan kita sendiri.
Waktu hanya menjadikan sebagian besar dari kita - menua, tetapi belum tentu menjadikan kita lebih bijak.

Karena, telah banyak orang yang telah cukup berusia untuk disebut sebagai orang tua, tetapi yang berperilaku layaknya seperti seseorang yang tidak pernah belajar dari panjang waktu kehidupannya.
Dia masih membuat kesalahan-kesalahan yang sama yang dibuatnya pada masa remaja.

Dia terkhilafkan, dia tidak menyadari bahwa resiko dari kesalahan bersikap pada masa remaja dan pada masa tuanya - sangat berbeda.
Yang remaja - sering masih bisa dimaafkan; tetapi kesalahan bersikap pada masa tua - hampir tidak ada permintaan maaf yang bisa memperbaikinya.

Yang paling berpengalaman adalah dia yang selalu menjadikan dirinya pemula bagi waktu.
------------
Seseorang yang belajar dari waktu yang telah berlalu, disebut sebagai seorang yang berpengalaman.
Tetapi, segera setelah dia merasa bahwa pengalamannya telah cukup, dan dia merasa bahwa semua yang perlu dipelajarinya- telah selesai dipelajarinya; dia akan menjadi pribadi yang pengalamannya tidak lagi dihormati orang.

Bila dia ingin menjadi pribadi yang pengalamannya dibutuhkan dan dihargai oleh orang lain, dia harus bersedia menyambut kedatangan waktu yang baru - dengan mata yang terbelalak berdebar untuk menerima pelajaran baru yang selalu datang dengan keremajaan waktu.
Dan dengannya, dia akan selalu menjadi pemula bagi waktu.

Bagi yang memanfaatkannya, waktu adalah keuntungan.
-------------------
Nilai dari waktu hanyalah sebanding dengan penggunaannya.
Bila Anda gunakan, Anda akan diuntungkan; bila tidak maka apakah waktu akan perduli?

Karena lebih banyak orang yang menelantarkan waktu, maka benar bahwa sebagian besar dari kita sesungguhnya adalah orang-orang yang sedang merugi.

Tidak ada harga yang bisa ditetapkan atas waktu - dan Anda tidak harus membelinya, tetapi waktu itu sangat berharga.
Waktu itu bukanlah milik Anda - Anda tidak dapat menyimpannya, tetapi Anda dapat menggunakannya untuk keuntungan Anda.

Bila Anda tidak menggunakannya- mungkin tidak akan langsung terlihat kerugian Anda, tetapi waktu juga yang akan menunjukkan kepada Anda semua kebaikan yang seharusnya menjadi hak Anda.

Kualitas waktu ditentukan oleh kualitas dari yang dikerjakan dalam waktu itu.
-------------------
Semua waktu adalah waktu yang baik, bila yang Anda kerjakan adalah sesuatu yang baik.
Dan sebaliknya, tidak akan ada waktu yang baik untuk melakukan sebuah keburukan.

Maka, jangan boroskan waktu untuk menunggu waktu yang baik; tetapi gunakanlah semua energi Anda untuk memikirkan dan menemukan sesuatu yang baik untuk dikerjakan.
Setelah itu, bersegeralah bekerja keras untuk melakukan pekerjaan baik itu.

Penggunaan waktu yang baik seperti itu - bila dilakukan dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya, akan menjadikan keseluruhan hidup ini berkualitas.

100% komponen pembentuk kebijakan itu adalah penghargaan.
--------------
Perhatikanlah, tidak akan ada pribadi yang akan mencapai kebijakan apa pun, bila dia tidak mampu menjadikan dirinya menghar-gai dirinya sendiri dan orang lain.

Seseorang ditinggikan karena kebijakannya, yaitu karena penghargaannya kepada yang menghasilkan - untuk kontribusinya; karena penghargaannya kepada yang salah - agar dia tersemangati untuk menjadi benar melalui penerimaan hukuman yang adil; karena dia menghargai dirinya sendiri - dengan menetapkan standar kebaikan yang sama kepada dirinya sendiri, sebagaimana dia menetapkannya kepada orang lain.
Dia menjadi pribadi yang dihargai, karena penghargaannya kepada hal-hal yang benar.
Bisa Anda bayangkan, hormat apa yang diberikan kepada seseorang yang menghargai hal hal yang buruk?

Waktu.
-------
Engkau lama bersamaku, saat aku menginginkanmu berlalu cepat.
Tetapi engkau cepat meninggalkanku, saat aku sangat membutuhkanmu.

Engkau menjadi pendek - saat aku bekerja keras, dan menjadi sangat panjang - saat aku menunggu.

Tetapi, sekarang aku mengerti, engkau selalu menjadi waktu yang baik untuk melakukan.


(Sumber: Mario Teguh)
posted by .:: me ::. @ 6:43:00 AM   0 comments
:: My Profile ::

... m.y.z.t.e.r.i.o.u.z ...
... click my profile ...
... please don't click ...




Join me on Friendster!

Chat 

With Me
:: Wisdom ::

When we succeed, we are thankful. When we fail, we are also thankful.
The happiness and wealth are in the thankful attitude itself.
[Saat sukses kita bersyukur. Saat gagalpun kita bersyukur.
Sesungguhnya kebagiaan dan kekayaan sejati ada pada rasa bersyukur.]"

Love and attention is power! If all us are willing to share love and attention towards people arounds us, then life will be happier and more meaningfull.
(Cinta dan perhatian adalah kekuatan! Jika setiap hari kita mau memberikan cinta dan perhatian kepada orang-orang di sekeliling kita hidup akan lebih bermakna).

Terkadang manusia terlebih dahulu tenggelam dalam keputusasaannya.
Dengan emosinya mereka mengatakan bahwa masalah yang mereka hadapi sangatlah berat.
Sesungguhnya jika mereka yakin dengan usaha mereka, niscaya Tuhan pasti menjawabnya.

Salah satu cara yang paling efektif untuk memperbaiki diri adalah dengan mengingat dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan.
Karena mungkin saja kesempitan yang dialami saat ini adalah buah dari kesalahan masa lalu dan kita belum memohonkan ampun kepada Allah.

The future is not a result of choices among alternative paths offered by the present, but a place that is created – created first in the mind and will, created next in activity.
The future is not some place we are going to, but one we are creating. The paths are not to be found, but made, and the activity of making them, changes both the maker and the destination.[John Schaar].
:: Recent Post ::
:: Archives ::
:: Menu ::
:: LETTO Fans Blog ::
:: NIDJIholic Blog ::

Click Slide Show
:: Friends ::
:: Games ::
:: Powered By ::

BLOGGER
2006, Ver. 4.0, Design by: Tamtomo~ Email: TamtomoMail~ Please Send Your Comment About Our Blog