:: Sponsored ::


:: Statistic ::


Web Page Counter
Since 25.01.2006
Since 17.Aug.2005

visitor online

:: MP3 Player ::
Tam's MP3 Player
:: Tam's IndoHitz ::
:: Quotation ::
:: Blog Map ::
My Location
:: The Story ::


Mindset Pemenang
<$BlogDateHeaderDate$>
Mindset pemenang bukanlah mereka yang selalu ingin dimenangkan dan tidak mau menerima kekalahan, Melainkan mereka yang memiliki semangat pemenang yang sekaligus siap menerima kekalahan dengan lapang dada.

Mindset pemenang sejati yang sebenarnya adalah mereka yang memiliki komitmen, integritas, kebesaran jiwa dan penghargaan yang tinggi dalam aturan, etika dan moral yang ditetapkan dalam kompetisi di kehidupan.

Seorang yang memiliki mindet pemenang adalah ia yang bangga dengan hasil pencapain positifnya, karyanya dan kemajuan kinerjanya.

Eko Jalu Santoso

Labels:

posted by .:: me ::. @ 12:35:00 PM   0 comments

Sesuatu Tidak Selalu Kelihatan Sebagaimana Adanya
<$BlogDateHeaderDate$>
Ada sebuah kisah tentang dua malaikat yang sedang menyamar menjadi manusia biasa. Yang satu menyamar sebagai seorang lelaki muda dan satunya lagi menjadi lelaki yang lebih tua. Suatu hari ia berkunjung ke sebuah keluarga kaya raya yang tinggal di suatu kota dan mengutarakan niatnya untuk menginap satu malam di rumah ini sebelum melanjutkan perjalananya. Tuan rumah yang kaya raya ini menyambut kedua tamunya dengan kurang ramah dan penuh curiga. Kemudian keduanya ditempatkan menginap di sebuah kamar yang sempit yang letaknya di belakang rumah. Ketika hendak tidur, malaikat yang menyamar menjadi orang yang lebih tua melihat dinding kamar yang retak dan berlubang, kemudian ia memperbaikinya. Dalam sekejap dinding itu menjadi nampak rapi dan tidak ada retakan lagi.

Ketika malaikat yang menyamar menjadi orang muda bertanya kepada yang lebih tua, “mengapa engkau memperbaiki dinding yang retak ini ?”. Orang yang lebih tua menjawab, “Sesuatu Tidak Selalu Nampak Sebagaimana Adanya”.

Esok harinya keduanya melanjutkan perjalanan dan berkunjung ke sebuah keluarga petani miskin yang tinggal di sebuah desa. Mengetahui kedua orang tamunya sedang dalam perjalanan dan membutuhkan tempat untuk menginap, kedua suami istri petani miskin ini menyambutnya dengan ramah. Kemudian sang istri menyiapkan makanan dan berbagi sedikit makanan yang dimilikinya dengan kedua orang tamunya. Ketika hendak tidur, kedua petani miskin ini mempersilahkan kedua orang tamunya untuk tidur di atas ranjangnya dan ia sendiri memilih tidur di tikar di tempat lainnya. Ketika bangun pagi, malaikat yang menyamar menjadi lelaki muda melihat kedua orang suami istri petani ini sedang menangis sedih, karena mendapati seekor sapi miliknya terbujur mati dikandangnya. Sapi ini adalah satu-satunya harta yang sangat berharga bagi petani ini.

Malaikat yang menyamar menjadi orang yang lebih muda bertanya kepada yang lebih tua, “mengapa engkau tidak membantu kedua petani ini dan membiarkan sapinya mati ?. Ketika berada di keluarga kaya raya yang kurang ramah dan tidak mau berbagi, engkau membantu menutup dinding rumahnya yang retak. Tetapi kini dengan dua orang petani yang miskin, tetapi sangat ramah dan mau berbagi meskipun kekurangan, engkau malah tidak membantu agar sapinya tidak mati ?”. Malaikat yang menjadi lelaki lebih tua sekali lagi menjawab, “Sesuatu Tidak Selalu Kelihatan Sebagaimana Adanya”.

Kemudian malaikat yang menyamar menjadi lelaki tua menjelaskan kepada yang muda, “ketika berada di rumah keluarga kaya raya tetapi tidak ramah dan tidak mau berbagi, aku melihat di dalam dinding yang retak itu ada tersimpan harta emas. Maka aku menutupnya dengan rapi agar ia tidak dapat menemukannya. Sedangkan tadi malam ketika kita tidur di ranjang kedua petani miskin ini, malaikat maut datang dan hendak mencabut nyawa istri petani ini. Lalu aku memohon kepaa Allah, agar tidak mencabut nyawa istri petani yang ramah dan sedang berbagi ini, kemudian sebagai gantinya ditukarlah dengan nyawa seeokor sapi miliknya.”

Sahabat yang baik, sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya. Seringkali kita menerima keadaan yang datang kepada kita, sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka banyaklah bersyukurlah kepada Tuhan. Namun tidak jarang kita menerima keadaan yang datang kepada kita, tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kalau demikian adanya, maka janganlah berprasangka negatif atau berprasangka tidak baik lebih dahulu. Kadangkala apa yang kita harapkan dan apa yang kitainginkan, belum tentu yang terbaik menurut Tuhan. Kadangkala apa yang tidak baik menurut kita, belum tentu tidak baik menurut Tuhan. Maka serahkanlah segala sesuatunya hanya kepada Tuhan, karena kita tidak selalu dapat melihat sesuatu sebagaimana kelihatannya.

Berlakulah baik, senanglah berbagi dengan sesama dan banyaklah bersyukur atas rahmat-Nya. Ketika kita sudah merasa melakukan sesuatu dengan benar, melakukan usaha dengan keras, melakukan ikhtiar dengan cerdas, senang berbagi dengan sesama dan memaksimalkan potensi yang ada dalam diri kita untuk meraih apa yang kita cita-citakan, maka sisanya serahkanlah kepada Tuhan. Percayakanlah segala hasil akhir dari usaha yang kita lakukan hanya kepada Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada kita. Ketika keadaan yang datang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka yakinlah bahwa sesuatu tidak selalu nampak sebagaimana adanya. Temukanlah himah dibalik setiap keadan yang datang kepada kita.

Salam Motivasi Sukses Mulia,

Oleh: Eko Jalu Santoso

Labels:

posted by .:: me ::. @ 1:01:00 PM   0 comments

Selamat Tinggal Kebencian
<$BlogDateHeaderDate$>
Pernahkan menyadari apa sesungguhnya salah satu kebodohan paling besar dalam hidup ini ?
Jawabanya adalah memelihara kebencian. Ya, kebenciaan adalah sebuah kebodohan hidup yang paling besar di dunia. Karena kebencian hanya akan membunuh waktu kehidupan dan mengorbankan benih cinta, sehingga tidak bisa berkembang dalam kehidupan. Orang yang menanam dan memelihara kebenciaan dalam hatinya, ia hanya akan menuai hasil ketidaknyamanan, sakit hati dan permusuhan. Sehingga harumnya wangi bunga cinta yang ada dalam dirinya tidak dirasakan dalam kehidupan.

Namun masih banyak orang yang tidak menyadarinya kalau hatinya dikuasai oleh benih kebenciaan. Manusia yang hatinya penuh kebenciaan pada hakekatnya adalah manusia yang gagal dalam hidup, karena tidak mampu mencintai dirinya sendiri. Maka ucapkan selamat tinggal kepada benci mulai saat ini juga. Tinggalkan jauh-jauh benih kebenciaan yang akan merusak benih cinta dan kebahagiaan dalam hati Anda.

Kalau ada yang membenci diri kita, berusahalah untuk tidak membalas kebencian itu dengan kebencian. Kalau kita membalas kebencian itu dengan kebencian, maka kitapun akan termasuk kedalam golongan orang yang membenci. Kalaupun harus membalas kebencian itu, berusahalan membalasnya dengan cinta, kasih sayang dan kebaikan. Mungkin kita akan mengatakan bahwa ini adalah hal yang mudah dituliskan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Benar dan memang demikian adanya. Tetapi yakinlah kalau mampu mengendalikan emosi kemarahan yang ada dalam diri kita, maka ini bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Bahkan akan menjadi hal yang mudal dilakukan. kita akan mampu membalas kebencian dengan cinta, kasih sayang dan kebaikan.

Bagaimana cara meninggalkan kebencian ? Salah satu cara meninggalkan kebencian adalah dengan berusaha bertindak dengan tindakan orang-orang yang berjiwa besar dan agung. Mereka yang memiliki keagungan jiwa mampu mengendalikan emosi amarah dan sakit hati atas kebenciaan orang lain.

Bagaimana cara memulainya ?
Kita bisa memulainya dengan membiasakan diri selalu memuji keagungan dan kebesaran Allah SWT yang telah memberikan keagungan jiwa bagi kita.
Dengan sering memuji kebesaran dan keagungan Allah SWT, kita akan memiliki semangat jiwa yang luhur, tinggi dan mulia.
Semangat jiwa yang agung dan mulia inilah yang akan mampu mengendalikan emosi dari dalam diri, sehingga tidak membiarkan kebenciaan hidup dalam diri kita.
Dengan tidak membiarkan benih kebencian tumbuh dalam diri kita, maka benih ketulusan cinta akan semakin tumbuh subur dalam diri kita.

Disarikan dari “The Art of Life Revolution", Eko Jalu Santoso

Labels:

posted by .:: me ::. @ 10:01:00 PM   0 comments

Perang Melawan Diri Sendiri
<$BlogDateHeaderDate$>
Dalam hidup ini, sukses tidaknya kita, bahagia tidaknya kita, adalah kita sendiri yang akan menentukannya.

Kalau kita membiarkan hidup dikuasai kekhawatiran, membiarkan hidup dikendalikan ketakutan, membiarkan hidup dibayangi kelemahan-kelemahan dalam diri, membiarkan hidup dikuasai kekurangan dalam diri, itu adalah sebuah kebodohan. Kalau kita membiarkan hidup dikuasai ego dan nafsu pribadi, itu sebuah kerugian.

Hiduplah dengan hati yang lurus. Berhati lurus artinya adalah menjaga hati dan pikiran agar tidak mudah goyah oleh godaan. Jangan menjadi manusia yang berkepribadian lemah dan berjiwa rapuh. Mereka yang demikian akan mudah tergoda pada kesenangan duniawi sesaat dengan mengabaikan suara hatinya. Mata tergoda melihat benda-benda yang indah, telinga tergoda mendengar suara-suara yang merdu, dan lidah tergoda hanya mau mencicipi makanan yang lezat. Akhirnya tubuh menjadi manja, dan pikiran mengembara ke mana-mana tanpa dapat dikendalikan.

Orang bijak mengatakan bahwa perang yang tidak ada habisnya adalah perang melawan diri sendiri, perang mengalahkan ego dan nafsu dalam diri. Musuh yang paling sulit ditaklukkan adalah diri sendiri. Karena itu kita harus menjaga keseimbangan hati dan pikiran kita. Hindari pikiran yang menyesatkan, karena nantinya akan menimbulkan malapetaka bagi diri sendiri.

Hati yang bercabang ibarat kuda yang lepas dari kendali. Kalau di dalam hati kita masih ada benih-benih keserakahan, kebencian, iri hati dan dengki, ego yang tinggi, kemalasan, sebaiknya segera cabut dari dalam hati kita. Apabila masih ada rasa malas berbuat kebaikan, takut mengalahkan kelemahan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.

Bila kita ingin menuai benih kesuksesan dan kebahagiaan, taburlah dari sekarang ini benih-benih kebaikan. Mulailah dengan menanam bibit-bibit kebaikan, mencabuti rumput-rumput ketamakan, kebencian, iri hati. Kemudian peliharalah dengan mengairinya melalui ketabahan dan kemurahan hati, serta menyuburkannya dengan memberi pupuk perilaku akhlak mulia dan berakal budi.

Dengan begitu, sudah sepantasnya kita mengharapkan akan menikmati hasil panen yang memuaskan. Sudah sepantasnya kita mengharpakan hasil keberhasilan dan kebahagiaan.

Oleh: Eko Jalu Santoso

Labels:

posted by .:: me ::. @ 9:21:00 PM   0 comments

Mengubah Sikap Hidup.
<$BlogDateHeaderDate$>
Ketika berbicara dihadapan para mahasiswa sebuah lembaga pendidikan di Yogyakarta beberapa waktu lalu, saya memulai pembicaraan dengan menanyakan kepada mereka, "Siapa orang yang paling Anda kagumi dalam hidup ini?". Jawaban yang muncul sangat beragam, dari mulai nama-nama menteri, politisi, selebriti sampai para kyai mereka sampaikan.

Kemudian saya melanjutkan dengan pertanyaan, "Apa yang membuat Anda mengaguminya?". "Apa saja yang membuatnya berbeda dibandingkan dengan orang lain?". Saya memberikan waktu sejenak untuk berpikir dan kemudian menuliskan jawaban mereka masing-masing di atas sehelai kertas.

Tentu saja ada banyak faktor yang disebutkan dalam jawaban mereka. Namun ketika mencermati lebih jauh ada salah satu faktor yang paling menonjol yang membuat mereka mengagumi orang-orang tertentu, adalah karena sikapnya. Ya, salah satu faktor yang sangat mencolok dari orang-orang sukses adalah bagaimana mereka bersikap terhadap berbagai persoalan dalam kehidupan ini.

Sahabat, sikap adalah hal kecil yang dapat membuat perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Sikap adalah hal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan hidup seseorang. Sikap ini sesungguhnya berasal dari dalam diri kita sendiri, berasal dari hati dan pikiran dalam diri kita sendiri, bukan dari luar diri kita. Banyak orang kurang menyadari hal ini, tidak mengetahui, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka memiliki kemampuan mengelola hati dan pikirannya. Kemampuan seseorang dalam mengelola hati dan pikirannya, kemampuan memimpin hati dan pikirannya akan sangat menentukan sikapnya dalam kehidupan ini.

Salah seorang sahabat saya yang bekerja sebagai HRD mengatakan, salah satu prinsip terpenting dalam managemen SDM adalah mengembangkan sikap seseorang agar menjadi lebih baik. Menurut teman saya, kalau sikapnya baik, ia bisa dilatih agar mahir dalam melakukan pekerjaannya. Sebaliknya, jika ia memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang luas namun sikapnya jelek, ia tidak akan pernah mampu berprestasi optimal, terutama jika bekerja dalam sebuah tim.

Sesuatu yang terjadi dalam hidup kita sebagian besar dipengaruhi oleh apa yang dominan menguasai hati dan pikiran kita. Ketika hati dan pikiran didominasi oleh sesuatu hal yang kita inginkan, kita akan semakin fokus pada hal tersebut. Kekuatan pikiran ini melahirkan energi dan motivasi yang kuat dari dalam diri kita dan mengarahkan kita menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Kalau kita melihat dari kacamata psikoanalisanya Sigmund Freud, adanya dorongan atau energi dari arah dalam diri ini tercipta karena adanya “unconcius mind” atau pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran bawah sadar inilah yang dapat mendorong energi dalam diri kita untuk mewujudkan apa yang kita pikirkan..

Sebaliknya kalau hati dan pikiran kita dikuasai oleh sesuatu yang dapat melemahkan kita, maka sikap kita akan menjadi lemah dan itulah yang akan kita dapatkan. Kalau pikiran kita sudah dikendalikan oleh berbagai hal negatif tentang kegagalan diri kita, maka sikap kita dalam mengahadapi kegagalan akan mudah menyerah dan kegagalan itulah yang akhirnya akan kita dapatkan.

Bagaimana Mengubah Sikap Menjadi Seorang Pemenang ?
Mulailah dengan mengubah keyakinan dalam diri kita bahwa keberhasilan, kesuksesan, kegelisahan, semuanya disebabkan faktor dari dalam diri kita sendiri. Sesungguhnya yang menciptakan itu semua adalah hati dan pikiran kita sendiri. Berbagai faktor luar lainnya tidaklah mencerminkan diri pribadi kita. Namun hati dan pikiran yang ada dalam diri itulah yang mengidentifikasikan diri kita. Itulah mengapa memiliki sikap yang senang mencari-cari alas an, senang menyalahkan berbagai factor luar dalam kegagalan yang kita dapatkan adalah sikap yang kurang bijaksana.

Memiliki keyakinan bahwa sukses dimulai dari hati dan pikiran dalam diri kita sendiri, dapat mengarahkan hati dan pikiran kita pada hal-hal positif dan indah tentang kesuksesan. Hal ini melahirklan sikap yang optimis akan kesuksesan. Hati dan pikiran kita menjadi lebih terbuka tentang hal-hal yang positif dan indah mengenai keberhasilan, sehingga itulah yang akan kita dapatkan. Semakin kuat keyakinan kita tentang kesuksesan, itulah yang akan semakin mendominasi pikiran kita sehingga dapat mengubah sikap hidup kita.

Perubahan sikap inilah yang dapat mengubah perilaku hidup kita. Ketika perilaku hidup kita berubah akan mendorong perubahan kinerja dan pada akhirnya dapat merubah hidup kita benar-benar menjadi seorang pemenang. Semakin kuat memikirkan bahwa kita akan berhasil, hampir pasti kita akan berhasil. Karena semakin kuat memikirkannya, semakain keras dorongan dari dalam diri untuk mengusahakannya dan semakin sulit kita menyerah. Kedisiplinan inilah yang mendorong keberhasilan seseorang.

Sumber; Mengubah Sikap Hidup Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku “The Art of Life Revolution”

Labels:

posted by .:: me ::. @ 5:20:00 PM   0 comments
:: My Profile ::

... m.y.z.t.e.r.i.o.u.z ...
... click my profile ...
... please don't click ...




Join me on Friendster!

Chat 

With Me
:: Wisdom ::

When we succeed, we are thankful. When we fail, we are also thankful.
The happiness and wealth are in the thankful attitude itself.
[Saat sukses kita bersyukur. Saat gagalpun kita bersyukur.
Sesungguhnya kebagiaan dan kekayaan sejati ada pada rasa bersyukur.]"

Love and attention is power! If all us are willing to share love and attention towards people arounds us, then life will be happier and more meaningfull.
(Cinta dan perhatian adalah kekuatan! Jika setiap hari kita mau memberikan cinta dan perhatian kepada orang-orang di sekeliling kita hidup akan lebih bermakna).

Terkadang manusia terlebih dahulu tenggelam dalam keputusasaannya.
Dengan emosinya mereka mengatakan bahwa masalah yang mereka hadapi sangatlah berat.
Sesungguhnya jika mereka yakin dengan usaha mereka, niscaya Tuhan pasti menjawabnya.

Salah satu cara yang paling efektif untuk memperbaiki diri adalah dengan mengingat dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan.
Karena mungkin saja kesempitan yang dialami saat ini adalah buah dari kesalahan masa lalu dan kita belum memohonkan ampun kepada Allah.

The future is not a result of choices among alternative paths offered by the present, but a place that is created – created first in the mind and will, created next in activity.
The future is not some place we are going to, but one we are creating. The paths are not to be found, but made, and the activity of making them, changes both the maker and the destination.[John Schaar].
:: Recent Post ::
:: Archives ::
:: Menu ::
:: LETTO Fans Blog ::
:: NIDJIholic Blog ::

Click Slide Show
:: Friends ::
:: Games ::
:: Powered By ::

BLOGGER
2006, Ver. 4.0, Design by: Tamtomo~ Email: TamtomoMail~ Please Send Your Comment About Our Blog